Kuliner

Awas Dehidrasi! 5 Panduan Minum Air Putih Saat Puasa

Simak 5 panduan minum air putih saat puasa agar tubuh tetap terhidrasi.

KamiBijak.com, Kuliner - Menjalani puasa Ramadan membuat waktu makan dan minum menjadi terbatas. Namun, kebutuhan cairan harian tubuh tetap harus dipenuhi agar kamu tidak mengalami dehidrasi, pusing, atau lemas saat beraktivitas.

 

Agar ibadah tetap lancar dan kondisi tubuh terjaga, berikut lima panduan minum air putih yang bisa kamu terapkan selama Ramadan:

 

  • Banyaknya air putih yang dianjurkan untuk kamu konsumsi saat Ramadan

Meskipun tidak minum selama lebih dari 12 jam, kebutuhan cairan harian orang dewasa pada dasarnya tidak berubah. Rata-rata tubuh tetap memerlukan sekitar dua liter air atau setara delapan gelas per hari agar fungsi organ berjalan optimal. Air berperan penting dalam menjaga suhu tubuh, membantu proses metabolisme, hingga melancarkan sistem pencernaan. Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi, tubuh bisa mengalami gangguan ringan hingga sedang seperti sakit kepala dan kelelahan.

 

Karena itu, meski waktu minum terbatas, kamu tetap perlu memastikan jumlah tersebut terpenuhi di antara waktu berbuka hingga sahur. Kuncinya bukan mengurangi kebutuhan, melainkan mengatur strategi pemenuhannya.

 

  • Strategi membagi waktu minum agar tetap tercukupi

Supaya delapan gelas air tidak terasa berat diminum sekaligus, kamu bisa membaginya secara bertahap. Pola yang sering dianjurkan misalnya 2-4-2, yakni dua gelas saat berbuka, empat gelas di malam hari, dan dua gelas saat sahur. Pembagian ini membantu tubuh menyerap cairan dengan lebih baik dibandingkan langsung minum dalam jumlah banyak sekaligus. Minum terlalu banyak dalam satu waktu justru bisa membuat perut terasa penuh dan tidak nyaman.

 

Dengan jadwal yang teratur, tubuh akan mendapatkan asupan cairan secara konsisten sepanjang malam. Cara ini juga membantu mencegah kamu lupa minum karena terlalu fokus pada makanan atau aktivitas setelah berbuka.

 

  • Faktor yang dapat memengaruhi kebutuhan cairan saat berpuasa

Kebutuhan cairan setiap orang bisa berbeda, tergantung pada berbagai faktor. Aktivitas fisik yang padat, pekerjaan di luar ruangan, serta cuaca panas dapat meningkatkan risiko kehilangan cairan melalui keringat. Selain itu, jenis makanan yang dikonsumsi saat berbuka dan sahur juga berpengaruh. Makanan tinggi garam atau terlalu manis bisa membuat tubuh lebih cepat merasa haus keesokan harinya.

 

Kondisi kesehatan tertentu juga dapat memengaruhi kebutuhan cairan. Karena itu, penting untuk menyesuaikan pola minum dengan aktivitas dan kondisi tubuh masing-masing, bukan hanya berpatokan pada angka umum saja.

 

  • Sinyal tubuh ketika mulai kekurangan cairan saat puasa

Foto: Canva


Tubuh biasanya memberikan tanda ketika mulai mengalami dehidrasi. Rasa haus berlebihan, bibir dan kulit kering, pusing, serta tubuh terasa lemas bisa menjadi gejala awal yang perlu diperhatikan.Selain itu, warna urine yang lebih pekat atau berwarna kuning gelap juga bisa menjadi indikator bahwa cairan tubuh belum tercukupi. Semakin gelap warnanya, semakin besar kemungkinan tubuh kekurangan cairan.

 

Jika kamu mengalami tanda-tanda tersebut setelah berbuka, segera tingkatkan asupan air secara bertahap. Memahami sinyal tubuh penting agar kondisi tidak semakin memburuk di hari berikutnya.

 

  • Cara menjaga hidrasi agar puasa tetap lancar dan tubuh tetap bugar

Agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi, biasakan minum secara berkala dari waktu berbuka hingga menjelang sahur. Jangan menunggu haus datang, karena rasa haus menandakan tubuh sudah mulai kekurangan cairan. Kamu juga bisa membantu menjaga hidrasi dengan mengonsumsi buah yang mengandung banyak air seperti semangka, melon, atau jeruk saat berbuka dan sahur. Asupan ini dapat menjadi pelengkap selain air putih.

 

Terakhir, batasi minuman berkafein dan terlalu manis karena dapat meningkatkan rasa haus. Dengan pola minum yang tepat dan konsisten, tubuh akan lebih siap menjalani puasa tanpa gangguan dehidrasi berlebihan.

 

Menjaga hidrasi selama Ramadan sebenarnya bukan hal yang sulit jika kamu memahami polanya. Kebutuhan cairan tidak berubah, hanya waktunya saja yang perlu disesuaikan. Dengan pengaturan yang tepat sejak berbuka hingga sahur, tubuh akan tetap segar dan ibadah pun bisa dijalani dengan lebih maksimal tanpa gangguan dehidrasi. (Athar/Magang)

 

Sumber: IDN Times