Hiburan

Vinton Cerf Bapak Internet Tunarungu yang Ubah Keterbatasan Jadi Inovasi Global

Vinton Cerf bapak internet tunarungu pencipta teknologi komunikasi global yang inklusif.

KamiBijak.com, Hiburan – Di balik kemajuan pesat teknologi digital dan konektivitas global yang dinikmati oleh seluruh masyarakat dunia hari ini, terdapat nama besar seorang ilmuwan komputer kenamaan asal Amerika Serikat, Dr. Vinton Gray Cerf. Sosok yang lahir pada 23 Juni 1943 ini diakui dunia internasional sebagai salah satu “bapak internet” bersama rekannya, Robert E. Kahn, berkat kontribusi besar mereka dalam merancang protokol TCP/IP yang menjadi dasar arsitektur jaringan komunikasi global.

Namun, di balik pencapaian gemilang dan berbagai penghargaan prestisius yang diraihnya di bidang ilmu komputer, tak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa perjalanan hidup Vinton Cerf memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan dunia disabilitas. Vint Cerf merupakan seorang penyandang tunarungu yang telah mulai menggunakan alat bantu dengar sejak usianya menginjak 13 tahun akibat mengalami gangguan pendengaran tingkat sedang.

Pengalaman hidupnya dengan keterbatasan pendengaran makin diperkaya ketika ia bertemu dengan Sigrid, perempuan yang kelak menjadi istrinya. Sigrid merupakan seorang penyandang tunarungu dengan gangguan pendengaran berat yang mengandalkan kemampuan membaca gerak bibir selama bertahun-tahun. Pertemuan di sebuah pusat alat bantu dengar tersebut berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun 1966 dan keduanya bersama-sama membangun keluarga yang harmonis.

Internet Lahir dari Semangat Keterhubungan Tanpa Batas

Latar belakang pribadi yang berdampingan erat dengan dunia tuli memberikan dorongan emosional dan pemahaman yang sangat mendalam bagi Vinton Cerf mengenai arti penting sebuah komunikasi tanpa hambatan. Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid, dalam pembukaan ajang Kompetisi TIK Nasional 2025 di Jakarta, secara khusus membagikan kisah inspiratif Vinton Cerf sebagai dorongan semangat bagi para talenta muda difabel.

Internet sebetulnya lahir dari salah seorang perancang teknologi yang juga adalah penyandang disabilitas. Vinton Cerf bersama istrinya, yang juga tuli, justru terdorong menciptakan teknologi komunikasi yang kini menghubungkan seluruh dunia,

ungkap Meutya Hafid menceritakan kisah di balik lahirnya teknologi internet.

Bagi Vint dan istrinya Sigrid, hambatan pendengaran sama sekali tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti melangkah dan berkarya. Sigrid sendiri kemudian menjalani proses operasi implan koklea pada tahun 1996 dan 2006. Teknologi medis tersebut membantunya kembali menikmati kemudahan berkomunikasi serta aktif membaca ratusan buku audio. Perjalanan hidup pasangan ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi seseorang untuk menciptakan dampak positif yang luar biasa bagi peradaban manusia.

Inklusivitas Sebagai Pilar Utama Transformasi Digital

Kisah sukses dan perjalanan hidup Vinton Cerf kini menjadi inspirasi utama dalam mengarusutamakan prinsip inklusivitas dalam pembangunan ekosistem digital nasional. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komdigi terus konsisten membuka ruang pemberdayaan bagi penyandang disabilitas melalui pelatihan literasi, pembuatan konten digital, pemasaran daring, hingga gelaran Kompetisi TIK Nasional.

Baca juga:

Dari Tempat Tidur Gips Lukisan Potret Diri Frida Kahlo Menembus Louvre

Langkah ini diambil guna memangkas jurang kesenjangan akses teknologi yang selama ini dihadapi oleh kelompok difabel di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari sekitar 22,5 juta penyandang disabilitas di Indonesia, baru sekitar 34,89 persen yang memiliki akses terhadap penggunaan gawai atau komputer. Angka ini masih tertinggal cukup jauh dibandingkan kelompok non-disabilitas yang telah mencapai 81,61 persen.

Sejak internet lahir, jarak menjadi tidak lagi relevan. Semua bisa terhubung, dan itulah kekuatan sejati inklusivitas,

tegas Meutya Hafid menambahkan.

Melalui penyediaan pelatihan keterampilan digital yang berkelanjutan serta pembukaan ruang kerja yang inklusif baik di lembaga pemerintah maupun swasta, potensi besar para penyandang disabilitas dapat dioptimalkan secara nyata.

Kisah Vinton Cerf mengajarkan kita bahwa inovasi teknologi yang hebat berakar dari pemahaman akan kebutuhan manusia untuk saling terhubung, menghargai keberagaman, serta meruntuhkan batasan fisik demi masa depan yang ramah bagi semua. (Fania/Magang)

Sumber: Kementerian Komdigi

Fania