Hiburan

Tidak Bisa Main Roblox, Anak Tantrum? Psikolog Beri Saran untuk Orang Tua

Psikolog menjelaskan cara orang tua menghadapi anak yang tantrum saat Roblox tak bisa diakses.

KamiBijak.com, Hiburan - Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun memicu berbagai respons di masyarakat. Salah satu dampak yang muncul adalah keluhan orang tua karena anak mereka menjadi marah atau tantrum ketika tidak bisa lagi mengakses permainan daring seperti Roblox.

 

Fenomena ini dinilai wajar oleh sejumlah psikolog. Anak-anak yang sudah terbiasa bermain gim digital dapat menunjukkan reaksi emosional ketika aktivitas tersebut tiba-tiba terhenti. Tantrum sendiri merupakan salah satu bentuk ekspresi frustrasi karena keinginan mereka tidak terpenuhi.

 

Menurut psikolog, kondisi tersebut sering muncul karena anak belum memiliki kemampuan pengelolaan emosi yang matang. Ketika akses terhadap gim dihentikan atau dibatasi, mereka merasa kehilangan sesuatu yang menyenangkan sehingga muncul kemarahan atau tangisan.Orang tua disarankan tidak langsung memarahi anak ketika tantrum terjadi. Respons yang terlalu keras justru dapat memperburuk situasi dan membuat anak semakin sulit menenangkan diri. Pendekatan yang lebih tenang dan empatik dinilai lebih efektif untuk meredakan emosi mereka.

 

Psikolog juga menyarankan agar orang tua membantu anak memahami situasi yang sedang terjadi. Penjelasan sederhana mengenai alasan pembatasan akses gim atau internet dapat membuat anak lebih mudah menerima kondisi tersebut.

 

Selain itu, penting bagi orang tua untuk mengalihkan perhatian anak ke aktivitas lain yang lebih positif. Kegiatan seperti bermain di luar rumah, membaca buku, atau melakukan hobi kreatif bisa menjadi alternatif agar anak tidak terlalu bergantung pada permainan digital.Pendampingan dari orang tua juga menjadi faktor penting dalam penggunaan teknologi oleh anak. Dengan adanya batasan yang jelas serta komunikasi yang baik, anak dapat belajar mengatur waktu bermain sekaligus memahami bahwa penggunaan gim bukan satu-satunya sumber hiburan dalam kehidupan mereka.

 

Pada akhirnya, psikolog menekankan bahwa peran orang tua sangat menentukan dalam membantu anak menghadapi perubahan kebiasaan digital. Melalui pendekatan yang sabar dan konsisten, tantrum yang muncul akibat pembatasan akses gim dapat dikelola dengan lebih baik. (Athar/Magang)

 

Sumber: CNN Indonesia