Berita

Siswa Disabilitas Korban Perundingan, Kapolrestabes Selidiki Setelah Pulih

Polrestabes Surabaya menyelidiki perundungan siswa disabilitas di SMK swasta, fokus pada pemulihan korban dan langkah pencegahan.

KamiBijak.com, Berita - Kepolisian masih menyelidiki dugaan perundungan terhadap seorang siswa disabilitas di salah satu SMK swasta di Surabaya. Proses hukum yang berjalan saat ini mengutamakan pemulihan kondisi korban sebelum pemeriksaan lebih lanjut dilakukan.

 

Kepala Polrestabes Surabaya, Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan, menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi psikologis korban.

 

 

Kombes Pol Luthfi Setiawan saat melakukan doorstop dengan awak media (foto : Kompas/Adinda Trisaeni Nur Sabrina)

 

“Terkait dengan bullying terhadap satu anak disabilitas, saat ini masih berproses ya, karena anaknya sendiri masih kita rawat dulu, penyembuhan psikis dulu,” ujarnya pada Rabu (18/2/2026).

 

Menurut Luthfie, pemeriksaan terhadap korban baru akan dilakukan setelah dokter menyatakan kondisi psikologisnya siap. Polisi juga telah memanggil sejumlah saksi untuk dimintai keterangan guna mengungkap pihak-pihak yang terlibat.

 

“Untuk korban, kita akan menunggu dokter dan dalam beberapa hari ini menunggu kondisi psikisnya korban siap, lalu nanti kita akan lakukan pemeriksaan, mengarah kepada siapa-siapanya,” katanya.

 

Karena kasus ini melibatkan anak di bawah umur, proses penanganannya akan mengacu pada sistem peradilan anak, termasuk kemungkinan penerapan diversi sebagai upaya penyelesaian di luar pengadilan.

 

“Karena ini menyangkut anak, tentu tahap-tahap diversi kita akan lakukan,” ucapnya.

 

Selain fokus pada penanganan kasus, kepolisian juga menyiapkan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Melalui Satuan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan unit terkait, polisi akan memetakan wilayah yang dinilai rawan terhadap kekerasan terhadap anak.

 

“Kita akan membuat peta tentang kerawanan kejadian yang menjadikan anak sebagai korban. Ini kita data di mana lokasi-lokasi yang lebih rentan terhadap terjadinya kejadian-kejadian seperti ini,” tutur Luthfie.

 

Pemetaan tersebut akan menjadi dasar penentuan titik intervensi, termasuk sosialisasi dan upaya pencegahan di lingkungan yang dianggap rentan.

 

“Nanti kita akan bisa menyentuh di titik mana yang memang harus kita lakukan langkah-langkah intervensi lebih kuat, termasuk sosialisasi dan juga upaya-upaya prevensi,” katanya.

 

Kasus ini mencuat setelah video dugaan perundungan beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang siswa menjadi sasaran tindakan fisik oleh sejumlah teman sebayanya. Informasi yang beredar menyebutkan peristiwa terjadi pada Selasa (10/2/2026) sekitar pukul 13.00 WIB di salah satu SMK swasta di Surabaya, dengan korban merupakan siswa berkebutuhan khusus.

 

Peristiwa tersebut juga mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan Jawa Timur. Hingga kini, proses pendalaman oleh kepolisian masih berlangsung sambil menunggu kondisi korban pulih agar dapat memberikan keterangan lebih lanjut. (Keisha/MG)

 

Sumber : Kompas