KamiBijak.com, Hiburan – Nama Panji Surya Sahetapy atau yang lebih dikenal dengan Surya Sahetapy sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Pria kelahiran 21 Desember 1993 ini merupakan putra ketiga dari pasangan aktor kenamaan Ray Sahetapy dan penyanyi legendaris Dewi Yull. Selain itu, Surya juga memiliki garis keturunan sejarah sebagai generasi ke-5 dari Tirto Adhi Soerjo, tokoh pers nasional dan pahlawan pergerakan Indonesia.
Panji Surya Sahetapy. (Foto: DBS Spark)
Sejak usia dua tahun, Surya divonis mengalami kondisi disabilitas pendengaran atau Tuli. Meski tumbuh dalam keterbatasan pendengaran, hal tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk terus belajar dan membangun kepercayaan diri yang tinggi dalam bersosialisasi.
Latar Belakang Keluarga dan Komunikasi Bahasa Isyarat
Tumbuh di tengah keluarga yang penuh perhatian memberikan dorongan besar bagi perkembangan karakter Surya. Proses belajar komunikasinya dibentuk melalui kombinasi latihan bicara bersama sang ibu, panduan instruktur sekolah, membaca gerak bibir lawan bicara, hingga tulisan. Keberadaan almarhumah kakak pertamanya, Gisca Putri Agustina, serta pamannya yang juga merupakan seorang Tuli membuat Surya mengenal bahasa isyarat sejak masa kecil.
Baca juga:
Pengalaman tersebut membuatnya mampu menguasai berbagai medium komunikasi secara multibahasa. Surya tercatat menguasai Bahasa Indonesia lisan dan tulis, Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), Bahasa Isyarat Amerika (ASL), isyarat internasional, hingga Bahasa Inggris tulis.
Kalau enggak dapat akses bahasa isyarat dari kecil, saya mungkin akan sangat tertutup, enggak seperti sekarang,
ungkap Surya Sahetapy saat menceritakan pentingnya komunikasi awal bagi anak-anak Tuli.
Dinamika Menempuh Jenjang Pendidikan
Perjalanan pendidikan Surya terbilang penuh tantangan dan ragam pengalaman. Ia mengawali pendidikannya di Taman Kanak-Kanak (TK) umum sebelum berpindah ke TK Luar Biasa. Selanjutnya, ia menuntaskan jenjang Sekolah Dasar di SLB hanya dalam waktu enam tahun. Ketika melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) umum, Surya sempat mengalami kesulitan beradaptasi dengan materi listening dan membaca gerak bibir banyak guru.
Kondisi tersebut mendorongnya mengambil langkah untuk menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui jalur homeschooling. Pembelajaran tatap muka secara pribadi memberikan keleluasaan waktu bagi Surya untuk aktif berorganisasi dan makin memahami identitasnya sebagai seorang Tuli.
Dari situ saya sadar identitas saya sebagai Tuli, bukan tunarungu. Tunarungu berkaitan dengan perspektif medis, kalau Tuli ya sudah Tuli saja, kami hanya berbeda,
jelas Surya menegaskan perspektif linguistik-budaya komunitasnya.
Pembuktian Lewat Studi Akademis dan Kesadaran Sosial
Pendidikan tinggi juga menjadi pembuktian ketangguhan Surya. Sempat mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Sampoerna University Jakarta, ia kemudian melanjutkan studinya ke Institut Teknologi Rochester (RIT) / National Technical Institute for the Deaf di Amerika Serikat. Di kampus tersebut, ia berhasil meraih gelar D3 Applied Liberal Arts dengan predikat Cum Laude, lalu melanjutkan studi S1 Studi Internasional hingga lulus predikat Magna Cum Laude.
Pengalaman akademis dan interaksinya dengan komunitas internasional memperkuat kepedulian sosialnya. Ia aktif mengedukasi masyarakat mengenai perbedaan istilah tunarungu dan Tuli, pentingnya penyediaan teks di media digital, serta hak-hak aksesibilitas yang setara bagi seluruh penyandang disabilitas.
PR masih banyak. Tanggung jawab saya mengedukasi untuk menanamkan konsep disabilitas agar pemerintah dan masyarakat makin paham,
tegas Surya mengenai dorongan pengabdiannya.
Sosok Surya Sahetapy kini menjadi teladan inspiratif yang terus menggaungkan semangat kesetaraan serta pentingnya dukungan bahasa isyarat bagi masa depan anak-anak Tuli di Indonesia. (Fania/Magang)
Sumber: Liputan6.com
