Hiburan

Kenapa Perempuan Sulit Melepaskan? Psikologi di Balik Rasa Takut Kehilangan

Takut kehilangan sering bikin perempuan bertahan. Kenali loss aversion dan dampaknya pada hidup.

KamiBijak.com, Hiburan - Pernahkah kamu tetap bertahan pada sesuatu yang sudah tidak lagi membahagiakan, tetapi terasa terlalu berat untuk ditinggalkan? Bisa berupa hubungan, pekerjaan, peran dalam keluarga, atau bahkan versi diri sendiri yang sudah lama tidak relevan. Di balik keputusan-keputusan ini, sering kali ada satu bias psikologis yang bekerja tanpa disadari: loss aversion.

Konsep loss aversion diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky melalui Prospect Theory. Intinya, manusia merasakan sakit akibat kehilangan jauh lebih kuat dibandingkan rasa senang karena mendapatkan hal baru dengan nilai yang setara. Secara psikologis, kehilangan terasa hampir dua kali lebih menyakitkan. Akibatnya, kita cenderung fokus pada apa yang bisa hilang, bukan pada apa yang berpotensi didapatkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, loss aversion jarang muncul secara terang-terangan. Ia menyusup lewat emosi, ikatan sosial, dan tekanan norma dan pada perempuan, efeknya sering kali terasa lebih kompleks.

Bertahan dalam Hubungan yang Tak Lagi Sehat

Dalam relasi romantis, loss aversion kerap membuat perempuan memilih bertahan, bukan karena masih merasa bahagia, melainkan karena takut kehilangan. Takut kehilangan pasangan, takut semua waktu dan emosi yang sudah dicurahkan terasa sia-sia, dan takut harus memulai kembali dari awal.

Ketakutan ini sering kali lebih dominan dibandingkan harapan akan kebahagiaan di masa depan. Akibatnya, yang dipertahankan bukan lagi cinta, melainkan rasa aman semu. Pelan-pelan, hubungan tersebut justru mengikis harga diri dan ketenangan batin.

Pernikahan, Keluarga, dan Tekanan Sosial

Dalam pernikahan dan kehidupan keluarga, loss aversion sering muncul dalam bentuk toleransi berlebihan terhadap konflik. Banyak perempuan bertahan demi menghindari label sosial seperti “gagal”, “tidak sabar”, atau “tidak tahu berterima kasih”.

Mimpi pribadi, ambisi, bahkan kesehatan mental kerap dikorbankan karena takut kehilangan peran ideal sebagai istri atau ibu menurut standar masyarakat. Kerugian emosional jangka panjang seperti kelelahan mental, rasa hampa, atau kehilangan jati diri, sering tidak langsung disadari karena fokus hanya tertuju pada apa yang bisa hilang secara sosial.

Karier dan Keuangan: Takut Ambil Risiko

Loss aversion juga berperan besar dalam keputusan karier dan finansial. Banyak perempuan ragu pindah pekerjaan karena takut kehilangan stabilitas. Ada pula yang enggan menegosiasikan gaji karena khawatir dicap ambisius atau tidak tahu diri. Dalam investasi, ketakutan akan rugi sering membuat peluang besar terlewat begitu saja.

Bukan karena kurang kompeten, melainkan karena rasa takut kehilangan terasa lebih nyata daripada potensi pertumbuhan.

Saat Loss Aversion Menyerang Kepercayaan Diri

Yang sering luput disadari, loss aversion juga bekerja secara internal. Perempuan bisa takut mencoba hal baru karena takut gagal, menahan pendapat karena takut ditolak, atau bertahan di zona nyaman yang sebenarnya tidak memuaskan.

Ketakutan kehilangan validasi, penerimaan, atau rasa aman sering kali lebih kuat daripada dorongan untuk berkembang. Padahal, perubahan hampir selalu menuntut keberanian menghadapi kemungkinan kehilangan.

Memilih Sadar, Bukan Menyalahkan

Memahami loss aversion bukan soal menyalahkan diri sendiri. Justru, ini adalah langkah awal untuk menyadari pola yang memengaruhi keputusan hidup. Saat kamu mulai bertanya, “Aku bertahan karena masih bermakna, atau hanya karena takut kehilangan?” di situlah ruang perubahan terbuka.

Melepaskan tidak selalu berarti kalah. Dalam banyak kasus, itu justru menjadi bentuk keberanian paling jujur, cara untuk menyelamatkan diri sendiri dan memberi ruang bagi makna baru yang lebih sehat dan membahagiakan. (Restu)

Sumber : Fimela