Kamibijak.com, Disabilitas - Lebih dari separuh orang tua di Inggris menghadapi kesulitan saat mencari klub liburan sekolah yang ramah bagi anak penyandang disabilitas. Keterbatasan layanan ini tidak hanya mengurangi kesempatan anak untuk mengikuti aktivitas selama masa liburan, tetapi juga berdampak pada kondisi ekonomi, pekerjaan, hingga kesehatan mental keluarga.
Temuan tersebut diungkap dalam riset organisasi amal Sense, yang menunjukkan sekitar 57 persen orang tua mengalami kesulitan mendapatkan tempat di klub liburan yang mampu memenuhi kebutuhan anak penyandang disabilitas. Padahal, layanan semacam ini sangat dibutuhkan ketika sekolah memasuki masa libur panjang.
Baca Juga :
Sense memperkirakan lebih dari 60.000 anak penyandang disabilitas di Inggris tinggal di wilayah yang belum memiliki akses memadai terhadap klub liburan inklusif. Akibatnya, ribuan keluarga harus mencari alternatif pengasuhan dengan biaya yang tidak sedikit atau bahkan tidak memiliki pilihan sama sekali.
Survei terhadap 114 pemerintah daerah di Inggris juga menemukan masih adanya kesenjangan penyediaan layanan. Sekitar 10 persen pemerintah daerah diketahui belum menyediakan klub liburan khusus bagi anak penyandang disabilitas. Kondisi tersebut membuat lebih dari 61.000 keluarga tidak memperoleh dukungan selama liburan sekolah.
Dampaknya terasa langsung bagi orang tua. Sekitar 32 persen responden mengaku kesulitan ini memperburuk kondisi keuangan keluarga karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengasuhan. Bahkan, 16 persen orang tua menyatakan terpaksa berhenti bekerja lantaran tidak menemukan layanan yang sesuai bagi anak mereka.
Selain persoalan ekonomi, tekanan psikologis juga meningkat. Sebanyak 34 persen orang tua mengatakan kesehatan mental mereka memburuk akibat sulitnya memperoleh layanan liburan yang inklusif. Banyak keluarga harus merencanakan pengasuhan jauh hari sebelum liburan dimulai, namun tetap belum memperoleh kepastian tempat bagi anak mereka.
Beberapa orang tua juga mengaku kerap menerima penolakan dari penyelenggara klub liburan. Ada penyedia layanan yang belum memiliki tenaga pendamping, fasilitas, maupun pengalaman untuk mendukung anak dengan kebutuhan khusus sehingga memilih tidak menerima peserta penyandang disabilitas.
Natalie Thompson dengan anak laki-laki, Azuriah. Sumber Foto : : Sense
Sense menilai kondisi tersebut menciptakan ketimpangan layanan yang bergantung pada wilayah tempat tinggal atau dikenal sebagai postcode lottery. Artinya, kesempatan anak penyandang disabilitas mengikuti kegiatan selama liburan sekolah sangat ditentukan oleh lokasi tempat tinggal keluarga, bukan berdasarkan kebutuhan mereka.
Organisasi itu pun mendesak pemerintah Inggris untuk menyusun kebijakan nasional yang mewajibkan seluruh pemerintah daerah menyediakan klub liburan yang inklusif dan mudah diakses. Menurut Sense, setiap anak penyandang disabilitas berhak menikmati aktivitas liburan yang aman, menyenangkan, dan setara dengan anak-anak lainnya.
Di sisi lain, keberadaan klub liburan yang inklusif juga dinilai penting untuk membantu orang tua tetap dapat bekerja tanpa harus mengorbankan pengasuhan anak. Dengan dukungan layanan yang memadai, keluarga diharapkan dapat menjalani masa liburan sekolah dengan lebih tenang.
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Asosiasi Pemerintah Daerah Inggris (Local Government Association/LGA) mengakui masih terdapat kesenjangan dalam layanan bagi anak dengan kebutuhan pendidikan khusus dan penyandang disabilitas. LGA menilai reformasi sistem dukungan bagi anak berkebutuhan khusus perlu mencakup layanan di luar jam sekolah, termasuk penyediaan kegiatan selama liburan.
Baca Juga :
Hasil riset ini menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Akses terhadap kegiatan rekreasi, pengembangan keterampilan, dan interaksi sosial selama masa liburan juga merupakan bagian penting untuk mendukung tumbuh kembang anak penyandang disabilitas sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarga mereka. (Restu)
Sumber: The Guardian
