KamiBijak.com, Berita - Pratama Risky Jusufi Lodo, seorang disabilitas netra yang saat ini mengajar di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Raja Kupang, membagikan kisah dedikasinya mengabdi di dunia pendidikan. Ia menegaskan bahwa keputusannya menjadi seorang guru lahir dari keprihatinan terhadap akses pendidikan bagi penyandang disabilitas. Langkahnya menjadi teladan bagi banyak orang muda NTT.
“Banyak teman-teman disabilitas tidak mendapatkan layanan pendidikan formal. Masih banyak rekan kami disabilitas yang belum tersentuh layanan dasar Pendidikan. Kondisi ini mendorong saya untuk hadir sebagai pendidik yang memahami kebutuhan mereka,” ujarnya menegaskan pengalamannya dalam siaran di Pro1 RRI Kupang.
Risky mengakui bahwa keterbatasannya tidak pernah menjadi penghalang untuk mengabdi. Ia justru melihat adanya keterbatasan tersebut sebagai jembatan untuk memahami murid-muridnya secara lebih manusiawi. Ia meyakini bahwa pendidikan inklusif hanya akan lahir dari hati yang mengerti perjuangan.
“Walaupun dengan keterbatasan, saya merasa mampu menjadi seorang tenaga pendidik. Saya harus siap mengajar siswa disabilitas maupun non-disabilitas,” ucap Risky dengan penuh keyakinan.
Ia juga menegaskan pentingnya menempuh pendidikan berjenjang untuk memantapkan profesi sebagai seorang guru. Menurutnya, proses yang harus dilalui dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi merupakan fondasi pembentukan profesionalitas. Ia menambahkan bahwa pendidikan profesi guru akan membantu pendidik semakin siap berada di ruang kelas.
Menurut Risky, pendidikan inklusif bukanlah sebuah konsep, melainkan perjuangan nyata. Ia membuktikan bahwa setiap orang, seperti apapun kondisinya, memiliki ruang untuk hadir dan berkarya. (Irene)
Sumber: rri.co.id
