KamiBijak.com, Berita - Gunung Semeru yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Rabu pagi (24/6/2026). Letusan tersebut menghasilkan kolom abu yang terpantau menjulang hingga 600 meter dari puncak gunung.
"Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Rabu 24 Juni 2026, pukul 06.22 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 600 meter di atas puncak atau 4.276 meter di atas permukaan laut (mdpl)," ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Yadi Yuliandi dalam laporan tertulis di Lumajang, Rabu (24/6/2026), melansir Antara.
Menurut Yadi, erupsi tersebut disertai kemunculan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal yang bergerak ke arah barat. Aktivitas letusan juga terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 22 milimeter dan berlangsung selama 130 detik.
Baca juga:
Naik Gunung Karena FOMO? Ini Risiko Serius yang Sering Diabaikan Pendaki Pemula
Ia menjelaskan, hasil pemantauan sejak pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB menunjukkan aktivitas kegempaan Semeru masih cukup tinggi. Dalam periode tersebut tercatat 14 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo berkisar antara 15 hingga 22 milimeter.
Lalu tiga kali gempa guguran dengan amplitudo 2-4 mm, dua kali gempa embusan dengan amplitudo 3-4 mm, satu kali harmonik dengan amplitudo 1 mm, dan satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 15 mm,
papar dia.
Aktivitas Semeru Masih Berstatus Siaga
Erupsi Gunung Semeru ( Foto: bnpb.go.id )
Yadi menuturkan bahwa hingga saat ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Status Level III atau Siaga. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar zona tersebut, warga juga diimbau tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai yang berada di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Area tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak gunung.
Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),
ucap Yadi.
Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya awan panas, guguran lava, maupun aliran lahar yang dapat mengalir melalui sungai dan lembah yang berhulu di kawasan puncak Semeru.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," jelas Yadi.
Dengan aktivitas vulkanik yang masih berada pada level siaga, masyarakat di sekitar Gunung Semeru diharapkan terus memantau informasi resmi dari otoritas terkait dan mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan. Kewaspadaan menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas erupsi maupun potensi bencana susulan di wilayah sekitar gunung.(Athar/Magang)
Sumber: Liputan 6
