Hiburan

Hipertensi Bisa Memicu Kebutaan hingga Demensia, Ini Penjelasan Dokter

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko kebutaan dan demensia.

KamiBijak.com, Hiburan - Hipertensi selama ini lebih sering dikenal sebagai penyakit yang berkaitan dengan gangguan jantung dan risiko stroke. Namun, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol ternyata juga dapat memicu berbagai komplikasi serius lain yang jarang disadari masyarakat. Kerusakan pembuluh darah akibat hipertensi tidak hanya berdampak pada organ vital, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mata dan fungsi otak secara perlahan.

 

Dokter spesialis saraf sekaligus Ketua Indonesian Society of Hypertension, Eka Harmeiwaty, mengatakan hipertensi dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk disabilitas netra hingga demensia.

Ketua INASH, Eka Harmeiwaty (Foto: Antara)

 

Menurut Eka, hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang berada di mata.

Baca juga:

Cara Mencegah Hipertensi dan Menjaga Tekanan Darah Tetap Normal

 

Di mata ada pembuluh darah, nah jika pecahnya pembuluh darah berlanjut terus, itu bisa menyebabkan kebutaan,

kata Eka dalam temu media bersama Omron di Jakarta pada Rabu, 20 Mei 2026.

 

"Kemudian bagaimana dengan demensia? Nah, pada pasien-pasien demensia yang terganggu itu pembuluh darah yang kecil-kecil di otak. Pasien hipertensi yang tidak terkontrol memiliki risiko pembuluh darah yang kecil-kecil itu tersumbat, nah itulah yang merusak sel-sel saraf yang kemudian bisa menyebabkan demensia," tambah Eka.

 

Ia menjelaskan bahwa penderita hipertensi tidak harus mengalami stroke terlebih dahulu untuk mengalami demensia. Kondisi pikun atau demensia umumnya terjadi pada pasien dengan hipertensi kronik atau tekanan darah tinggi yang telah berlangsung lama.

 

"Kalau pikun biasanya pada hipertensi kronik, yang lama, kalau kebutaan usia muda juga bisa, karena hipertensi sekunder," ujarnya.

 

Dilansir dari Cleveland Clinic, hipertensi sekunder merupakan kondisi tekanan darah tinggi yang memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Penyebab tersebut umumnya berasal dari kondisi medis tertentu atau penggunaan obat-obatan tertentu. Biasanya, tekanan darah dapat diturunkan dengan mengatasi penyebab utamanya.

 

Hipertensi sekunder berbeda dengan hipertensi primer yang tidak memiliki penyebab pasti. Sebagian besar kasus tekanan darah tinggi termasuk dalam kategori hipertensi primer.

 

Dulu, para ahli memperkirakan hanya sekitar 5 hingga 10 persen kasus hipertensi yang memiliki penyebab sekunder. Namun, penelitian terbaru menunjukkan jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

 

Hal tersebut terjadi karena masih banyak kasus hipertensi sekunder yang tidak terdeteksi dan akhirnya didiagnosis sebagai hipertensi primer.

 

Karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas, hipertensi kerap disebut sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Oleh sebab itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko lebih awal dan mencegah komplikasi serius seperti kebutaan, stroke, hingga demensia. Menjaga pola hidup sehat, mengontrol tekanan darah, serta rutin berkonsultasi dengan tenaga medis juga dapat membantu menurunkan risiko kerusakan organ akibat hipertensi jangka panjang.(Athar/Magang)

 

Sumber: Liputan 6 

Athar Zahran
Menulis artikel, mengedit, dan mendesain cover untuk dibagikan melalui website maupun platform media sosial KamiBijak. Menulis artikel bersifat topik umum, namun kebanyakan hiburan seperti trivia dan berita ringan.