KamiBijak.com, Travel - Popularitas naik gunung terus meningkat seiring maraknya konten media sosial. Foto matahari terbit di puncak, hamparan awan, hingga narasi “healing di alam” sukses membuat banyak orang tergoda mencoba pendakian. Sayangnya, tidak sedikit yang berangkat hanya karena takut ketinggalan tren atau FOMO, tanpa persiapan yang memadai.
Padahal, mendaki gunung bukan sekadar aktivitas rekreasi atau gaya hidup kekinian. Ini adalah kegiatan berisiko tinggi yang menuntut kesiapan fisik, mental, serta pemahaman keselamatan dasar. Kesalahan kecil di gunung bisa berujung cedera serius, hipotermia, tersesat, bahkan membutuhkan evakuasi darurat.
Agar tidak menjadi korban tren, ada sejumlah hal penting yang wajib dipahami sebelum memutuskan naik gunung.
Jangan mendaki hanya karena ikut-ikutan
Pendakian membutuhkan stamina, kemampuan adaptasi medan, serta pengambilan keputusan yang matang. Jika motivasinya hanya mengikuti viral di media sosial, risiko kelelahan berlebih dan kepanikan di jalur akan jauh lebih besar.
Persiapkan kondisi fisik sejak jauh hari
Latihan fisik seperti jogging, naik turun tangga, hiking ringan, atau latihan kardio sebaiknya dilakukan minimal 2–4 minggu sebelum pendakian. Tubuh yang tidak siap lebih rentan mengalami cedera, kram, hingga dehidrasi.
Kenali risiko kesehatan di gunung
Hipotermia, sesak napas, terkilir, luka jatuh, hingga pingsan adalah kondisi yang kerap terjadi saat mendaki. Karena itu, pengetahuan dasar pertolongan pertama atau first aid hiking menjadi bekal yang tidak boleh diabaikan.
Utamakan perlengkapan keselamatan
Peralatan naik gunung bukan soal gaya. Jaket hangat, jas hujan, P3K, headlamp, air minum, makanan berenergi, peluit, dan alat navigasi jauh lebih penting dibanding outfit foto. Keselamatan selalu berada di atas estetika.
Hindari mendaki sendirian
Sistem tim atau buddy sangat disarankan. Dalam kondisi darurat, pendakian berkelompok memudahkan komunikasi, pertolongan, dan pengambilan keputusan saat terjadi masalah di jalur.
Lakukan riset jalur dan pantau cuaca
Pelajari karakter jalur pendakian, lokasi sumber air, pos pendakian, serta prakiraan cuaca terbaru. Banyak insiden terjadi karena pendaki memaksakan summit saat cuaca buruk atau medan tidak bersahabat.
Berani membatalkan pendakian
Jika kondisi tubuh menurun atau logistik tidak mencukupi, turun gunung adalah keputusan paling bijak. Dalam dunia pendakian, pulang dengan selamat jauh lebih penting daripada mencapai puncak.
Donny Nurhamsyah, dosen keperawatan gawat darurat, menegaskan bahwa mendaki gunung harus dipahami sebagai aktivitas berisiko, bukan hiburan biasa. Menurutnya, keterbatasan akses medis di gunung membuat pendaki wajib memiliki kemampuan dasar kegawatdaruratan.
“Banyak evakuasi bukan karena medan ekstrem, tapi karena persiapan yang minim. Dehidrasi, kelelahan, dan kedinginan sering dianggap sepele, padahal di gunung bisa menjadi kondisi darurat,” ujarnya.
Pada akhirnya, naik gunung adalah soal tanggung jawab pribadi. Alam tidak bisa dikendalikan, sehingga kesiapan dan kesadaran risiko harus selalu menjadi prioritas utama. Mendaki dengan bijak bukan tentang mengikuti tren, melainkan tentang kembali dengan selamat. (Restu)
Sumber : Kumparan
