Berita

30 Disabilitas Pekalongan Ciptakan Batik Ekologis, Laris Berkat Digital Marketing!

Pelatihan batik ekologis dan digital marketing bertujuan untuk melestarikan batik sekaligus membuka peluang usaha ramah lingkungan.

KamiBijak.com, Berita - Sebanyak 30 penyandang disabilitas di Kota Pekalongan berkesempatan mengikuti pelatihan batik ekologis sekaligus digital marketing. Program ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kota Pekalongan dengan Kemitraan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai langkah nyata memberdayakan masyarakat secara inklusif.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Pekalongan, Inggit Soraya, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai, batik ekologis kini semakin digemari karena menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan sekaligus aman untuk kulit. Bahan-bahan yang dipakai berasal dari alam, seperti daun, bunga, kunyit, hingga kulit kayu, yang menghasilkan warna indah dan bisa dipadukan menjadi motif modern.

“Pelatihan ini lengkap. Peserta tidak hanya belajar membuat batik dengan pewarna alami, tetapi juga dibekali strategi digital marketing. Dengan begitu, karya mereka bisa menembus pasar lebih luas, tidak sekadar mengandalkan penjualan offline,” ujar Inggit, Senin (29/9/2025).

Ia menambahkan, peluang batik ekologis sangat terbuka. Bahkan, komunitas batik ekologis sudah diajak mengikuti pameran di Yogyakarta, yang memberi sinyal positif untuk memperluas pasar di masa depan.

Pelatihan ini berlangsung selama tiga hari. Para peserta belajar mulai dari membuat pola batik, proses pewarnaan menggunakan bahan alami seperti jolawe (Terminalia bellerica), tingi (Ceriops tagal), kunyit, hingga berbagai jenis bunga dan daun. Selain itu, mereka juga dilatih memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk agar bisa bersaing di era modern.

Pelaksanaan eksperimen warna batik. (Foto : Dok. Instagram)

Menurut Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pekalongan, Tipuk Prasetyowati, kegiatan ini tidak hanya fokus pada keterampilan membatik, tetapi juga bertujuan menciptakan kemandirian ekonomi bagi peserta. “Penggunaan pewarna alami memberikan nilai tambah karena ramah lingkungan. Harapannya, para penyandang disabilitas bisa memperoleh pendapatan berkelanjutan dari keterampilan ini,” jelasnya.

Salah satu peserta, Merry Maryam, mengungkapkan rasa syukurnya bisa ikut serta. Ia mengaku mendapat pengalaman baru sekaligus semangat untuk terus berkarya. “Ini kali ketiga kami penyandang disabilitas diberi kesempatan. Manfaatnya besar sekali, bukan hanya ilmu tapi juga motivasi untuk mandiri,” tuturnya.

Melalui program ini, Inggit berharap batik ekologis semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih luas. Lebih dari itu, ia ingin penyandang disabilitas di Pekalongan dapat lebih berdaya, mandiri, sekaligus turut menjaga warisan batik yang menjadi identitas kota. (Restu)

Sumber: Liputan6