Strategi Lolos Seleksi CPNS bagi Penyandang Disabilitas: Hindari Kesalahan Administrasi
Tips lengkap agar penyandang disabilitas lolos CPNS tanpa gugur di tahap administrasi
KamiBijak.com, Berita - Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) menjadi impian banyak masyarakat Indonesia termasuk mereka yang merupakan penyandang disabilitas. Pemerintah telah memberikan kesempatan melalui formasi khusus sesuai ketentuan kuota minimal 2 persen untuk penyandang disabilitas dalam setiap rekrutmen ASN. Namun dibalik peluang itu, banyak peserta yang justru gugur bukan karena tidak mampu bekerja, melainkan karena kesalahan pada dokumen administrasi awal yang wajib dipenuhi saat pendaftaran.
Menurut Boy, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) pengguna kursi roda dari Pengadilan Tinggi Agama Padang, tahap administrasi seringkali menjadi “lubang jarum” bagi pelamar disabilitas. Kesalahan administratif seperti tidak mencantumkan informasi penting pada Surat Keterangan Dokter atau kelengkapan video aktivitas keseharian bisa membuat pelamar harus menghentikan langkah lebih dulu sebelum tes kompetensi dasar.
1.Pentingnya Surat Keterangan yang Tepat
Surat keterangan dokter merupakan dokumen esensial yang diwajibkan bagi pelamar formasi disabilitas. Dokter tidak cukup hanya mencantumkan diagnosis medis, surat itu harus menyebutkan derajat disabilitas atau tingkat kemandirian pelamar. Informasi ini nantinya menjadi landasan instansi dalam menilai apakah calon ASN bisa bekerja secara mandiri dengan bantuan alat bantu atau membutuhkan pendampingan khusus. Ketidaksesuaian atau kelalaian informasi di dalam surat ini menjadi salah satu penyebab umum gugurnya peserta administrasi.
- Buat Video Aktivitas Sehari-hari yang Meyakinkan
Tidak sekadar tentang diagnosa medis, pelamar formasi disabilitas harus mengunggah video singkat yang menunjukkan aktivitas sehari-hari mereka. Ini merupakan bukti nyata bahwa pelamar tidak hanya memenuhi syarat administratif tetapi juga mampu melaksanakan tugas-tugas tertentu sesuai karakter pekerjaan yang dilamar.
Penting untuk menghindari video yang pasif atau tidak menunjukkan keterampilan secara jelas, karena ini dapat membuat verifikator administrasi meragukan kemampuan pelamar. Video harus direncanakan dengan matang agar pihak panitia seleksi melihat bahwa pelamar benar-benar mampu menjalankan tugas yang akan dihadapi.
- Belajar dari Kisah Inspiratif Penyandang Disabilitas yang Berhasil
Inspirasi juga datang dari mereka yang pernah mengalami perjuangan panjang sebelum akhirnya resmi menjadi ASN. Contohnya, drg. Romi Syofpa Ismael, seorang dokter gigi penyandang disabilitas, sempat dicabut kelulusan CPNS-nya pada tahun 2018 hanya karena penggunaan kursi roda, meskipun ia meraih peringkat terbaik. Melalui perjuangan administratif hingga surat dan proses banding, ia akhirnya dilantik sebagai PNS setelah membuktikan kompetensinya. Kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa kompetensi bukan segalanya ketika dokumen administratif tidak sesuai ketentuan.
- Hadapi Tantangan Stigma dan Pandangan Publik
Tak hanya soal dokumen, pelamar juga harus siap menghadapi tantangan sosial. Beberapa PNS penyandang disabilitas melaporkan pengalaman di mana mereka sempat menerima pandangan miring dari masyarakat yang belum paham tugas mereka sebagai ASN. Namun pengalaman itu juga menunjukkan bahwa profesionalisme dalam bekerja lambat laun dapat mengikis prasangka negatif tersebut.
- Alternatif Jalur Lain: PPPK
Bagi pelamar yang usianya di atas batas pendaftaran CPNS atau menghadapi hambatan administratif tertentu, jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) bisa menjadi alternatif. Secara substansi, PPPK memiliki hak yang setara dengan PNS dalam hal gaji dan tunjangan, meskipun tanpa jaminan pensiun.
Secara keseluruhan, kunci lolos seleksi CPNS bagi penyandang disabilitas bukan hanya bagi mereka yang kompeten, namun juga bagi mereka yang teliti mempersiapkan dokumen, memahami ketentuan teknis, dan menunjukkan kemampuan nyata dalam pendaftaran awal. (Sindi/PKL)
Sumber : Liputan6
Video Terbaru
MOST VIEWED
