Hiburan

Tanpa Kembang Api, Tahun Baru Terasa Hampa? Ini Sejarah di Balik Ledakannya

Dari ritual kuno hingga pesta modern, inilah asal-usul kembang api jadi simbol Tahun Baru.

KamiBijak.com, Hiburan - Pergantian tahun hampir selalu ditandai dengan langit malam yang dipenuhi cahaya dan suara letupan kembang api. Di berbagai belahan dunia, dentuman tersebut menjadi simbol berakhirnya satu fase sekaligus pembuka lembaran baru. Tanpa kilau warna-warni kembang api, perayaan malam tahun baru kerap terasa kurang lengkap.

Namun, di balik kemeriahan itu, kembang api memiliki perjalanan sejarah panjang. Ia bukan sekadar hiburan modern, melainkan warisan budaya yang berakar pada ritual kuno, mitologi, dan perkembangan teknologi selama ribuan tahun.

Ilustrasi Kembang Api. (Foto : Dok. Getty Images)

 

Dari Ritual Penolak Bala

Jejak awal kembang api dapat ditelusuri ke Liuyang, Tiongkok, sekitar abad ke-2 SM. Masyarakat kala itu membakar batang bambu berongga hingga meledak karena tekanan panas. Suara kerasnya dipercaya mampu mengusir roh jahat dan makhluk mitologis bernama Nian, yang diyakini muncul menjelang pergantian tahun.

Memasuki era Dinasti Tang (618–907 M), para alkemis yang mencari ramuan keabadian justru menemukan bubuk mesiu. Campuran kalium nitrat, belerang, dan arang ini menghasilkan ledakan lebih kuat saat dibakar. Awalnya digunakan dalam ritual, mesiu kemudian dimanfaatkan sebagai senjata sebelum akhirnya kembali ke fungsi perayaan, terutama pada Tahun Baru Imlek.

Menyebar ke Dunia Barat

Rahasia bubuk mesiu menyebar ke Eropa pada abad ke-13 melalui Jalur Sutra. Italia menjadi pelopor pengembangan kembang api sebagai hiburan, meski sempat melarangnya karena risiko kebakaran. Di Inggris dan Prancis, kembang api dipakai dalam pesta kerajaan dan perayaan kemenangan militer.

Di Amerika Serikat, kembang api identik dengan perayaan kemerdekaan sejak 1776. Tradisi ini kemudian menyatu dengan perayaan tahun baru dan momen nasional lainnya.

Adaptasi di Nusantara

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kembang api masuk melalui pengaruh Eropa. Portugis membawanya ke Maluku pada abad ke-16. Tradisi lokal seperti tororok bambu di Sulawesi dan permainan bubuk mesiu di Jawa pun beradaptasi, hingga akhirnya berkembang menjadi kembang api modern.

Evolusi Warna dan Teknologi

Awalnya hanya menghasilkan cahaya putih, kembang api kini hadir dalam berbagai warna berkat penemuan bahan kimia. Merah dari strontium, hijau dari barium, biru dari tembaga, serta emas-putih dari aluminium dan magnesium, masing-masing memberi kesan emosional yang berbeda.

Di era modern, pertunjukan kembang api makin canggih lewat pyromusical dan bahkan digantikan sebagian oleh drone light show yang lebih ramah lingkungan.

Makna di Balik Ledakan

Lebih dari sekadar hiburan, kembang api melambangkan pelepasan emosi dan harapan baru. Cahaya yang menembus gelap malam menjadi simbol kemenangan dan awal yang segar. Meski menuai kritik soal polusi dan keselamatan, pesonanya tetap sulit tergantikan sebagai ikon perayaan pergantian tahun. (Restu)

Sumber : Detik News