Waspada! Produktif Berlebihan Bisa Jadi Racun Bagi Hidupmu, Kenali Tanda & Cara Mengatasinya
Produktif itu baik, tapi kalau berlebihan bisa jadi toxic productivity.
KamiBijak.com, Hiburan - Produktivitas kerap dianggap sebagai kunci kesuksesan. Tak heran banyak orang berlomba-lomba bekerja keras demi hasil yang lebih besar. Namun, di balik semangat tersebut, ada sisi gelap yang sering luput disadari: toxic productivity, dorongan untuk selalu produktif tanpa henti hingga mengabaikan kesehatan fisik dan mental.
Toxic productivity muncul ketika seseorang merasa harus selalu sibuk dan produktif di segala aspek kehidupan, bukan hanya pekerjaan. Istirahat atau sekadar bersantai dianggap tidak penting. Padahal manusia bukan robot, tubuh dan pikiran tetap butuh jeda. Dorongan ini sering dipicu FOMO (Fear of Missing Out), yaitu ketakutan tertinggal atau merasa bersalah jika tak seproduktif orang lain. Media sosial yang memamerkan pencapaian orang lain kerap memperburuk perasaan ini.
Selain FOMO, keinginan mengalihkan pikiran dari stres juga dapat memicu toxic productivity. Seseorang mungkin terus menumpuk aktivitas demi “mengobati” masalah lain yang sebenarnya butuh dihadapi.
Bagaimana mengenalinya? Ada beberapa tanda umum toxic productivity:
- Merasa bersalah jika tak menyelesaikan banyak pekerjaan, meski sudah bekerja keras.
- Mematok standar tidak realistis dan terus mengejar ekspektasi berlebihan.
- Menganggap istirahat, hobi, atau waktu bersama orang terdekat sebagai buang-buang waktu.
- Mengalami kelelahan mental, cemas berlebihan, dan penurunan kualitas hidup.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan performa kerja dan mengganggu kesehatan mental. Ingat, produktif bukan berarti terus-menerus bekerja. Produktivitas yang sehat ibarat maraton, bukan sprint.
Keseimbangan antara hidup dan bekerja itu penting! (Foto : Dok empmonitor)
Untuk mengatasinya, cobalah langkah-langkah berikut:
- Tetapkan Batasan dan Tujuan Realistis. Gunakan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) agar tujuan jelas dan wajar.
- Kelola Prioritas. Tidak semua pekerjaan harus diambil. Fokus pada yang paling penting dan strategis.
- Berikan Waktu Istirahat. Rehat sejenak justru meningkatkan produktivitas jangka panjang dan menjaga kreativitas. Luangkan waktu untuk liburan, hobi, atau kumpul dengan orang tercinta.
- Kurangi Paparan Sosial Media. Jeda dari notifikasi dan konten pencapaian orang lain bisa menenangkan pikiran.
Cobalah evaluasi: Apakah produktivitasmu sudah sehat atau justru jadi racun? Ingat, work-life balance adalah kunci kesuksesan jangka panjang. Produktif boleh, tapi jangan sampai mengorbankan kesehatan fisik dan mental. (Restu)
Sumber : Fimela
Video Terbaru
MOST VIEWED
