KamiBijak.com, Hiburan – Fenomena film korea pembunuh berantai selalu berhasil memikat perhatian penikmat sinema lewat alur cerita misterius dan tekanan psikologis yang intens. Salah satu karya terbaik yang mengangkat ketegangan tersebut adalah Burning (2018), sebuah film thriller psikologis garapan sutradara legendaris Lee Chang-dong. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul Barn Burning karya Haruki Murakami, film ini menceritakan kisah Jong-su (Yoo Ah-in), seorang pemuda yang bekerja sebagai kurir sambil bercita-cita menjadi seorang penulis. Kehidupan Jong-su yang mulanya tenang berubah menjadi teka-teki rumit setelah ia kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Hae-mi (Jeon Jong-seo), yang tiba-tiba menghilang secara misterius usai mengenalkan seorang pria asing nan kaya bernama Ben (Steven Yeun).
Salah satu cuplikan adegan dalam film thriller psikologis Burning. (Foto: Medium)
Awalnya, Jong-su diminta Hae-mi untuk merawat kucing kesayangannya selama perempuan tersebut melakukan perjalanan ke Afrika. Namun, saat kembali ke Korea Selatan, Hae-mi membawa serta Ben, seorang pemuda kaya raya yang tidak pernah menjelaskan secara pasti pekerjaan maupun sumber kekayaannya. Ketegangan psikologis mulai terbangun saat Ben berkunjung ke rumah pedesaan Jong-su dan memberikan pengakuan yang mengejutkan. Ben mengaku memiliki hobi rahasia membakar rumah kaca terbengkalai setiap dua bulan sekali. Tak lama setelah pengakuan aneh tersebut, Hae-mi mendadak menghilang tanpa jejak, nomor teleponnya tidak aktif, dan seluruh barang di apartemennya bersih seolah ia tidak pernah ada.
Rasa cemas dan curiga mendorong Jong-su untuk melakukan penyelidikan mandiri guna melacak keberadaan teman dekatnya tersebut. Ia mulai mengintai kehidupan Ben yang mewah di kawasan Gangnam dan menemukan berbagai petunjuk janggal, seperti perhiasan wanita yang tersimpan di laci kamar mandi Ben hingga hadirnya kucing misterius yang merespons panggilan nama kucing Hae-mi. Lewat atmosfer yang dibangun secara perlahan (slow-burn), kisah ini menghadirkan ketegangan mendalam yang kerap diidentikkan dengan genre film korea pembunuh berantai. Penonton diajak menyusuri batasan yang kabur antara cemburu sosial, ketimpangan kelas, obsesi pribadi, hingga tindakan kejahatan yang tersembunyi di balik gaya hidup modern.
Baca juga:
Kutukan Aplikasi Girigo dalam Drama Horor Korea If Wishes Could Kill
Keunggulan Burning tidak hanya terletak pada jajaran pemain papan atasnya, tetapi juga pada keberhasilannya meraih berbagai penghargaan internasional bergengsi, termasuk FIPRESCI International Critics' Prize di Cannes Film Festival 2018. Para juri internasional memuji visual memukau garapan sinematografer Hong Kyung-pyo serta keberanian sutradara dalam menyampaikan kritik sosial mengenai keputusasaan generasi muda secara kontemporer. Penampilan luar biasa dari Yoo Ah-in, Steven Yeun, dan Jeon Jong-seo semakin memperkuat kualitas alur cerita yang sarat akan teka-teki dan simbolisme mendalam.
Bagi para pencinta sinema yang menyukai alur cerita misteri gelap serta tema film korea pembunuh berantai, karya Lee Chang-dong ini menjadi tontonan yang sangat direkomendasikan karena mampu memancing emosi dan pemikiran mendalam bagi para penontonnya. (Fania/Magang)
Sumber: Wikipedia
