Berita

Mensos Serukan Penghapusan Stigma ke Penyandang Disabilitas di HUT Pertuni ke-60

Mensos mengajak masyarakat mengikis stigma ke penyandang disabilitas dan perkuat dukungan sosial di perayaan HUT ke-60 Pertuni.

KamiBijak.com, Berita - Dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menegaskan bahwa masih ada tantangan besar dalam upaya menghapus stigma ke penyandang disabilitas di masyarakat. Acara ini berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan menjadi momen strategis untuk memperkuat suara serta peran penyandang disabilitas sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan sosial.

Dalam pidatonya, Mensos secara khusus menyampaikan bahwa seringkali yang membuat luka bagi penyandang disabilitas bukanlah kondisi fisik atau jenis disabilitas itu sendiri, tetapi justru stigma ke penyandang disabilitas yang masih hidup di lingkungan sosial. Menurutnya, diskriminasi yang timbul dari cara pandang yang keliru terhadap penyandang disabilitas dapat menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang serius.

Mensos menekankan bahwa stigma ke penyandang disabilitas sering menghambat akses mereka terhadap layanan publik, kesempatan kerja, dan partisipasi dalam kehidupan sosial yang setara. Ia menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengikis pandangan negatif tersebut sehingga penyandang disabilitas bisa merasakan penghormatan, perlindungan, dan hak atas kebebasan yang sama seperti warga lainnya.

Lebih jauh, Mensos juga menyinggung sejumlah tantangan struktural yang masih dihadapi oleh penyandang disabilitas di Indonesia. Ia menyoroti kebutuhan untuk memperkuat akses layanan publik yang ramah disabilitas, termasuk dalam hal fasilitas transportasi, bangunan publik, dan layanan kesehatan yang harus menerapkan prinsip inklusivitas.

Selain itu, Mensos menyampaikan bahwa untuk mewujudkan kesetaraan kesempatan kerja, pemerintah telah menetapkan persyaratan minimal tertentu agar instansi pemerintah dan BUMN dapat memenuhi kuota pekerja untuk penyandang disabilitas. Ia menyebut bahwa keterlibatan sektor swasta juga penting agar stigma ke penyandang disabilitas dapat benar-benar dihapuskan dan digantikan dengan kesempatan kerja yang adil dan bermartabat.

Dalam kesempatan yang sama, Mensos juga mengajak Pertuni dan organisasi penyandang disabilitas lainnya untuk terus memperkuat basis data nasional terkait kondisi kehidupan penyandang disabilitas. Data yang akurat diperlukan agar kebijakan dan program pemberdayaan yang dirancang oleh pemerintah dapat tepat sasaran serta memenuhi kebutuhan riil komunitas disabilitas di seluruh wilayah Indonesia.

Menurut data yang disampaikan dalam perayaan tersebut, tercatat lebih dari 15 juta penyandang disabilitas dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Namun, Mensos mengakui bahwa jumlah ini kemungkinan masih kurang lengkap dan terus dilakukan penyempurnaan agar tidak ada satupun penyandang disabilitas yang belum terdata dan mendapatkan perlindungan sosial.

Selain isu stigma ke penyandang disabilitas, Mensos juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan bencana yang inklusif sehingga penyandang disabilitas tidak menjadi pihak terakhir yang diselamatkan ketika terjadi bencana alam.

Peringatan HUT ke-60 Pertuni juga menjadi panggung untuk menegaskan peran organisasi disabilitas sebagai bagian dari pembangunan sosial yang lebih luas. Mensos menyampaikan bahwa penyandang disabilitas bukan hanya penerima bantuan, tetapi juga kontributor aktif dalam pembangunan, sehingga diperlukan ruang yang lebih besar bagi mereka untuk berpartisipasi dalam semua aspek kehidupan.

Seruan Mensos untuk menghapus stigma ke penyandang disabilitas di HUT Pertuni ke-60 ini menjadi pengingat bahwa upaya inklusi sosial membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, organisasi masyarakat, sektor swasta, dan masyarakat umum. Dengan kerja kolektif, diharapkan kesetaraan hak, akses, dan penghormatan terhadap penyandang disabilitas dapat terus meningkat, dan stigma yang selama ini menjadi penghalang utama dapat dihapuskan dari kehidupan sosial kita. (Sindi/PKL)

Sumber : Detik News