KamiBijak.com, Berita - Upaya memperkuat sistem kesehatan nasional kembali mendapat sorotan melalui dorongan serius terhadap program imunisasi yang menyasar kelompok rentan. Dalam konteks pemulihan pasca pandemi, pemerintah bersama mitra internasional menempatkan imunisasi sebagai fondasi penting untuk mencegah munculnya kembali penyakit menular. Langkah ini tidak hanya mencerminkan tanggung jawab negara dalam melindungi generasi muda, tetapi juga menunjukkan urgensi membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan dasar.
Bersama mitra pembangunan seperti UNICEF dan World Health Organization, Kementerian Kesehatan kembali menegaskan komitmen nasional dalam memperkuat program imunisasi. Penegasan ini disampaikan melalui momentum Puncak Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2026.
Upaya yang dilakukan menitikberatkan pada penjangkauan anak-anak zero-dose, yakni mereka yang sama sekali belum memperoleh imunisasi. Walaupun terdapat kemajuan, Kemenkes mencatat jumlah anak dalam kategori ini masih mencapai hampir 960.000 di Indonesia
Anak-anak dalam kelompok tersebut menjadi sasaran utama intervensi guna mengembalikan cakupan imunisasi nasional ke tingkat optimal setelah terdampak pandemi COVID-19. Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menekankan bahwa penguatan imunisasi rutin menjadi fokus utama pemerintah.
Baca juga:
Kemenkes Dorong Peran Media Tingkatkan Imunisasi dan Cegah Kematian Nasional
“Setelah pandemi, cakupan imunisasi kita sempat menurun dan ini menjadi perhatian serius. Imunisasi rutin adalah kunci utama. Kita tidak boleh lengah karena risiko kejadian luar biasa seperti campak, difteri, atau pertusis bisa meningkat jika cakupan tidak optimal,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah memastikan ketersediaan vaksin dalam skala nasional. Stok yang ada dinilai mencukupi hingga sembilan bulan ke depan, sembari menegaskan bahwa distribusi serta kualitas rantai dingin di berbagai daerah harus tetap terjaga agar pelaksanaan imunisasi berlangsung optimal.
Momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, menurut Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, Indri, perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk mempercepat pencapaian target imunisasi nasional. Ia menegaskan bahwa rangkaian kegiatan yang digelar bertujuan menguatkan kembali kesadaran publik mengenai pentingnya imunisasi bagi perlindungan generasi.
"Ini bukan hanya kegiatan seremonial. Tetapi gerakan bersama untuk memastikan anak-anak Indonesia lebih sehat,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan UNICEF Indonesia, Jean Lokenga, menekankan bahwa imunisasi merupakan hak dasar setiap anak yang wajib dipenuhi. Ia juga menggarisbawahi pentingnya menjangkau kelompok yang selama ini belum mendapatkan layanan.
“Lebih dari 100 juta dosis vaksin telah disalurkan melalui inisiatif The Big Catch-Up di 36 negara. Ini membuktikan bahwa tidak ada anak yang tidak bisa dijangkau jika ada komitmen bersama. Namun, kampanye ini bukan pengganti sistem imunisasi rutin yang kuat,” ujarnya.
Dari perspektif global, perwakilan WHO Indonesia, Olivia, menyebut imunisasi sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dengan dampak luas. Ia juga memberikan apresiasi terhadap komitmen Indonesia dalam menyelenggarakan Pekan Imunisasi Dunia secara aktif.
“Tidak semua negara merayakan Pekan Imunisasi Dunia secara masif seperti Indonesia, ini menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Namun, tantangan masih ada, terutama dalam menjangkau anak zero-dose dan meningkatkan kepercayaan masyarakat,” katanya.
Keseluruhan upaya ini menunjukkan bahwa keberhasilan program imunisasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin, tetapi juga pada sinergi lintas pihak serta konsistensi pelaksanaan di lapangan. Dengan tantangan yang masih ada, terutama dalam menjangkau kelompok yang belum tersentuh layanan, penguatan sistem imunisasi menjadi langkah krusial untuk memastikan perlindungan kesehatan anak-anak Indonesia tetap terjaga secara berkelanjutan.(Athar/Magang)
Sumber: RRI
