KamiBijak.com, Hiburan - Drama Korea tak hanya digemari karena kisahnya yang bikin baper, tetapi juga karena keberaniannya mengangkat isu sosial dengan pendekatan yang halus dan manusiawi. Salah satu tema yang kerap dihadirkan adalah representasi penyandang disabilitas, termasuk komunitas Tuli dan individu dengan gangguan pendengaran. Menariknya, beberapa drama bahkan memasukkan bahasa isyarat sebagai elemen penting cerita, bukan sekadar pelengkap.
Berikut drama Korea yang menampilkan bahasa isyarat dengan cara yang berkesan:
- When The Phone Rings
Drama ini mengeksplorasi benturan antara dunia yang sarat suara dan kehidupan seseorang yang mengandalkan komunikasi visual. Hong Hui Ju digambarkan sebagai penerjemah bahasa isyarat yang memaknai Bahasa Isyarat Korea sebagai bagian dari jati dirinya. Cerita berkembang saat ia terjebak dalam pernikahan yang rumit dengan figur publik ambisius. Konflik yang muncul tak hanya soal hubungan personal, tetapi juga prasangka sosial, identitas, dan perjuangan untuk dipahami. Nuansa emosionalnya terasa kuat karena bahasa isyarat menjadi medium ekspresi, bukan sekadar alat komunikasi.
- Twinkling Watermelon
Drama ini menuai banyak apresiasi berkat penggambaran komunitas Tuli yang terasa natural. Kisahnya mengikuti Eun Gyeol, remaja CODA yang hidup di antara dua dunia: keluarga Tuli dan kecintaannya pada musik. Elemen perjalanan waktu memberi warna unik, namun inti ceritanya tetap tentang keluarga, mimpi, dan komunikasi. Bahasa isyarat muncul secara organik dalam interaksi karakter, memperlihatkan dinamika emosional yang hangat sekaligus realistis. Drama ini berhasil menunjukkan bahwa komunikasi tidak selalu bergantung pada suara.
- A Shop For Killers
Meski dibalut genre aksi dan thriller, drama ini menghadirkan karakter yang menggunakan bahasa isyarat dengan cara yang tidak biasa. Kehadiran Honda memperkaya cerita sekaligus meruntuhkan stereotip bahwa disabilitas identik dengan kelemahan. Bahasa isyarat digunakan dalam konteks tegang dan strategis, memberikan nuansa berbeda dari drama pada umumnya. Pendekatan ini membuat representasi terasa segar sekaligus inklusif.
- Tell Me That You Love Me
Drama romantis ini menyoroti hubungan yang tumbuh di antara individu dengan cara berkomunikasi yang berbeda. Cha Jin Woo, seorang pelukis Tuli, mengekspresikan diri melalui karya visual karena lingkungan sekitarnya enggan belajar bahasa isyarat. Pertemuannya dengan Jung Mo Eun memicu perjalanan emosional yang lembut dan intim. Proses belajar bahasa isyarat menjadi simbol usaha memahami, bukan sekadar romantisasi. Drama ini kuat dalam aspek visual dan perasaan.
- 18 Again
Walau fokus utamanya adalah kisah fantasi dan keluarga, drama ini menyelipkan bahasa isyarat sebagai bagian alami kehidupan tokohnya. Profesi ibu sang karakter utama sebagai pengajar bahasa isyarat membuat seluruh keluarga terbiasa menggunakannya. Hal ini memberi pesan implisit tentang pentingnya komunikasi inklusif. Bahasa isyarat digambarkan sebagai sesuatu yang wajar, bukan eksotis atau dramatis.
- My Mister
Bahasa isyarat dihadirkan melalui relasi Ji An dan neneknya yang Tuli. Interaksi mereka sederhana, tetapi sarat emosi. Tanpa dialog panjang, kedekatan dan kasih sayang terasa kuat melalui gestur dan ekspresi. Drama ini menunjukkan bahwa keheningan pun dapat menyampaikan makna mendalam. Sentuhan ini memperkaya narasi yang sudah emosional sejak awal.
- The Beauty Inside
Kemunculan bahasa isyarat di episode awal memberikan momen yang hangat dan berkesan. Adegan tersebut menampilkan sisi empati karakter utama dalam interaksi singkat namun menyentuh. Meski bukan fokus utama cerita, penyisipannya terasa tulus dan bermakna, memperlihatkan sensitivitas sosial dalam drama populer.
- The Heirs
Drama ini menghadirkan karakter ibu Tuli yang berkomunikasi dengan anaknya melalui bahasa isyarat. Relasi mereka memberi keseimbangan emosional di tengah konflik sosial dan romansa remaja. Bahasa isyarat menjadi simbol kedekatan keluarga sekaligus pengingat bahwa kasih sayang melampaui kata-kata.
Penggunaan bahasa isyarat dalam drama-drama ini membuktikan bahwa komunikasi visual memiliki kekuatan emosional yang tak kalah dalam. Lebih dari sekadar representasi, elemen ini memperluas cara penonton memahami empati dan keberagaman. (Keisha/MG)
Sumber : Tempo
