Berita

Kampus di Indonesia Tak Ramah Dosen Disabilitas

Penelitian UGM mengungkap kampus di Indonesia belum inklusif bagi dosen disabilitas, dari akses fisik hingga bahan ajar yang belum ramah.

KamiBijak.com, Berita - Penelitian yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap bahwa sebagian besar kampus di Indonesia masih belum ramah bagi dosen penyandang disabilitas. Studi ini dikerjakan bersama University of Nottingham melalui survei terhadap 59 dosen disabilitas dari 26 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

 

Hasil riset menunjukkan berbagai hambatan fisik masih ditemukan di lingkungan kampus. Di antaranya tangga curam tanpa lift, toilet sempit, serta gedung bertingkat yang sulit diakses pengguna kursi roda. Selain itu, akses terhadap bahan ajar juga belum inklusif, seperti materi dan aplikasi yang tidak kompatibel dengan pembaca layar bagi dosen tunanetra.

 

Ketua Unit Layanan Disabilitas UGM, Wuri Handayani, mengungkap dampak psikologis yang dialami para dosen akibat hambatan tersebut. “Banyak dari dosen penyandang disabilitas mengalami kecemasan berlebih, mood yang naik-turun, hingga kelelahan berpikir,” ujarnya.

 

Ia menambahkan bahwa stigma negatif kerap muncul karena kurangnya pemahaman terhadap kondisi mereka. “Kondisi ini bukan karena mereka malas, tapi energi mereka habis untuk menaklukkan hambatan lingkungan sebelum sempat mengajar,” katanya.

 

Lingkungan kampus yang tidak aksesibel juga menghambat dosen dalam memenuhi tuntutan tridarma perguruan tinggi seperti mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Di ruang kelas, dosen dengan keterbatasan mobilitas atau wicara kerap mengalami kecemasan tinggi, terutama saat harus mengajar kelas besar.

 

Perubahan jadwal kuliah secara mendadak turut memperburuk situasi. Dosen disabilitas harus menyesuaikan ulang rencana transportasi dan pendampingan yang telah disusun dengan matang. Kondisi serupa juga terjadi saat menghadiri konferensi di luar kota. “Kegiatan yang seharusnya jadi ajang publikasi karya, malah terkadang jadi mimpi buruk soal transportasi, akses dan berbagai hambatan lain membuat mereka akhirnya memilih mundur,” kata Wuri.

 

Temuan survei ini dibahas dalam forum strategis yang didanai oleh British Council melalui skema Going Global Partnership 2025, yang digelar di Yogyakarta pada 4-5 Februari 2026. Forum bertajuk Shining a Light on Unheard Voices of Disabled Researchers (SHINE) tersebut menjadi ruang untuk mengungkap hambatan yang selama ini kurang terlihat di dunia pendidikan tinggi.

 

Sebagai hasil dari forum tersebut, 16 dosen disabilitas sepakat membentuk Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia (ADDI) sebagai wadah advokasi bersama. Organisasi ini diharapkan mampu mendorong kebijakan yang lebih inklusif di tingkat pemerintah maupun kampus.

 

“Harapannya melalui asosiasi yang dibangun dapat lebih mendorong kebijakan inklusif kepada pemerintah dan kampus. Mereka ingin memastikan ada akomodasi yang layak,” ujar Wuri.

 

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wening Udasmoro, menyambut baik pembentukan ADDI. Ia menegaskan bahwa komitmen terhadap inklusivitas tidak boleh berhenti pada slogan semata, melainkan harus diwujudkan melalui langkah konkret seperti audit aksesibilitas dan penyediaan fasilitas yang memadai.

 

“Saya sungguh berharap rekomendasi riset dan lokakarya ini tidak hanya menjadi dokumen di atas meja, melainkan dapat dijadikan refleksi terhadap perubahan yang komprehensif di universitas-universitas seluruh Indonesia,” katanya. (Keisha/MG)

 

Sumber : Tempo