Berita

Istana Sambut Usulan Perluas Program MBG untuk Disabilitas

Istana menanggapi usulan perluasan program MBG agar mencakup penyandang disabilitas dan anak jalanan.

KamiBijak.com, Berita - Pemerintah Indonesia sedang menimbang usulan penting terkait perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak hanya fokus pada kelompok sasaran yang sudah ditetapkan, tetapi juga mencakup penyandang disabilitas dan anak jalanan. Usulan ini mendapatkan respons dari Istana melalui Menteri Sekretaris Negara, sekaligus menunjukkan keterbukaan pemerintah terhadap masukan dari masyarakat dan organisasi yang peduli terhadap kelompok rentan.

Program MBG sendiri awalnya dibuat untuk memberikan makanan bergizi kepada kelompok yang dianggap rentan dan beresiko tinggi terhadap masalah gizi. Hingga saat ini, MBG telah menyasar anak usia dini atau balita, peserta didik dari PAUD hingga SMA/SMK, ibu hamil, dan ibu menyusui. Prioritas tersebut dipilih dengan tujuan meningkatkan nutrisi pada masa-masa kritis pertumbuhan dan perkembangan tubuh.

Namun seiring berkembangnya diskusi sosial di masyarakat, beberapa pihak mengusulkan agar program ini juga diperluas untuk menjangkau penyandang disabilitas serta anak jalanan. Bagi penyandang disabilitas yang bersekolah, seperti di Sekolah Luar Biasa (SLB), beberapa sudah dapat manfaat MBG. Namun, usia dan konteks kebutuhan membuat banyak aktivis sosial menilai kelompok disabilitas yang belum bersekolah tetap layak masuk dalam penerima manfaat program ini.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa isu tersebut sudah ditampung dan menjadi bahan pertimbangan pemerintah. Ia menjelaskan bahwa saat ini belum ada perluasan resmi ke kedua kelompok itu, tetapi pemerintah terbuka terhadap masukan demi kebaikan bersama. Pernyataan ini disampaikan dalam forum di Hambalang, Jawa Barat, menunjukkan bahwa ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat mengenai kebijakan sosial masih berjalan dinamis.

Selain penyandang disabilitas, anak jalanan seringkali kekurangan akses terhadap gizi layak karena keterbatasan ekonomi dan lingkungan. Usulan agar mereka juga bisa menerima MBG sekaligus membantu memperluas cakupan dukungan sosial bagi anak yang masih dalam usia sekolah namun tidak memiliki akses penuh ke layanan pendidikan atau pangan sehat.

Sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) telah mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto agar MBG diberikan kepada penyandang disabilitas dan lansia melalui program perlindungan sosial. Usulan tersebut turut disetujui oleh Presiden, menunjukkan adanya perhatian terhadap kelompok yang selama ini cenderung kurang mendapatkan akses layanan. Pemerintah menargetkan implementasi MBG bagi lansia dan disabilitas pada tahun 2026.

Penyediaan MBG kepada penyandang disabilitas dan lansia memang membutuhkan pendekatan yang berbeda dari model yang berlaku untuk anak sekolah. Para ahli kesehatan masyarakat menekankan pentingnya desain menu yang aman dan sesuai kebutuhan kelompok rentan, termasuk memperhatikan tekstur makanan, metode pengolahan yang aman, serta protokol keamanan pangan yang ketat. Ini dimaksudkan untuk meminimalkan risiko kesehatan.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) mengklarifikasi bahwa pemberian MBG kepada anak jalanan tetap menjadi tanggung jawab mereka, khususnya untuk anak usia sekolah yang belum terjangkau layanan pendidikan formal. Untuk penyandang disabilitas dan lansia, penyaluran makanan bergizi gratis akan disalurkan melalui Kementerian Sosial, memastikan bahwa koordinasi lintas kementerian dan lembaga tetap berjalan efektif.

Dengan adanya dialog aktif antara pemerintah dan masyarakat, terutama organisasi yang memahami kondisi kelompok rentan, program MBG berpotensi menjadi lebih inklusif dan merata. Pemerintah berupaya tidak hanya memberikan nutrisi yang cukup, tetapi juga memperkuat keamanan dan kualitas layanan sosial yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas dan anak jalanan.(Sindi/PKL)

Sumber : Liputan6