Berita

Ilustrator ITB Ungkap Cara Visual Bantu Anak Disabilitas Lebih Mudah Belajar

Pendekatan visual karya Wenny Yosselina bantu anak disabilitas belajar dan berkomunikasi.

KamiBijak.com, Berita - Anak-anak disabilitas membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda karena memiliki cara memahami informasi yang tidak sama dengan anak non-disabilitas. Kesadaran inilah yang mendorong ilustrator dan peneliti visual Wenny Yosselina mengembangkan pendekatan pembelajaran berbasis visual khusus untuk anak disabilitas.

Sebagai pengajar di Kelas Buku Anak ITB dan Art Therapy Centre (ATC) Widyatama Bandung, Wenny merancang ilustrasi yang berfungsi sebagai media belajar, terapi, sekaligus alat komunikasi. Karya visualnya terbukti membantu anak dengan autisme, low vision, dan disabilitas tuli dalam memahami informasi serta mengekspresikan diri dengan lebih baik. Ia juga aktif dalam program Art for Goods di Singapura, berkolaborasi dengan seniman lintas negara untuk mendukung literasi visual anak disabilitas.

Menurut Wenny, banyak buku dan media belajar untuk anak berkebutuhan khusus belum dirancang sesuai kebutuhan mereka. Padahal, hasil penelitian menunjukkan anak disabilitas cenderung lebih mudah memahami pesan visual dibandingkan bahasa verbal. Ia menekankan bahwa buku untuk anak disabilitas seharusnya didesain bersama mereka, karena visual mampu menjembatani komunikasi yang sulit dicapai lewat kata-kata.

Pengalaman Wenny bermula pada 2016 ketika ia membimbing anak-anak neurodivergen dalam tugas akhir. Ia menemukan bahwa gambar menjadi alat komunikasi paling efektif. Anak-anak yang tampak pasif atau sulit berinteraksi justru bersemangat ketika diminta menggambar, karena visual berbicara lebih kuat daripada instruksi verbal. Dari situ, Wenny menyimpulkan bahwa anak disabilitas memiliki kemampuan unik dalam menyimpan dan mengolah aset visual di pikirannya.

Buku visual yang ia rancang menekankan ilustrasi sederhana, fokus pada satu objek, warna lembut, dan latar yang tidak ramai agar tidak memicu distraksi. Namun, kebutuhan visual setiap anak berbeda. Anak low vision membutuhkan garis tebal dan kontras tinggi, sementara media digital menawarkan fleksibilitas meski berisiko mengalihkan perhatian.

Kontribusi Wenny juga meluas ke ranah internasional. Dalam proyek Adventures in the Symphony of Colours, ia menciptakan buku visual dan karya audio-visual yang mengangkat unsur budaya Indonesia, seperti wayang, batik, dan harimau Sumatra. Selain itu, ia mengembangkan metode evaluasi buku disabilitas untuk menilai tingkat pemahaman anak dan menyempurnakan desain visual.

Saat ini, Wenny tengah menyiapkan proyek Tangible Tales, buku cerita rakyat Indonesia berbasis teknologi 3D printing sebagai media fisik untuk mendukung sosialisasi anak autisme. Didukung latar akademik di FSR ITB dan beasiswa Tanoto Foundation, Wenny mendedikasikan karyanya bagi anak disabilitas, dengan keyakinan bahwa seni bukan sekadar empati, melainkan sarana membebaskan ekspresi semua anak. (Restu)

Sumber : Kompas