Berita

EQUAL Summit 2026 Dorong AI Inklusif untuk Disabilitas, UMKM, dan Generasi Digital Indonesia

EQUAL Summit 2026 dorong literasi AI inklusif bagi disabilitas, UMKM, dan masyarakat luas.

Kamibijak.com, Berita -  Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. AI tidak lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi sudah digunakan dalam pendidikan, pekerjaan, layanan publik, hingga aktivitas sehari-hari. Di tengah perkembangan tersebut, akses yang inklusif menjadi tantangan penting agar semua kelompok masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya, termasuk penyandang disabilitas.

Melalui program EQUAL, Microsoft Indonesia bersama Alunjiva Indonesia berupaya membangun ekosistem AI yang lebih inklusif, aksesibel, dan berkelanjutan. Program ini merupakan bagian dari inisiatif elevAIte Indonesia yang diluncurkan Microsoft bersama Kementerian Komunikasi dan Digital RI untuk membekali satu juta talenta Indonesia dengan keterampilan AI.

Sejak batch pertama hingga April 2026, program EQUAL telah menjangkau lebih dari 112 ribu peserta di berbagai wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 66.574 peserta merupakan penyandang disabilitas, sementara sisanya berasal dari kalangan perempuan dan pemuda.

Program ini tidak hanya menghadirkan pelatihan teknologi AI, tetapi juga membangun ruang belajar berbasis komunitas. Materi pembelajaran dibuat lebih aksesibel dengan melibatkan fasilitator penyandang disabilitas dan local champion di berbagai daerah.

Sumber : Dokumentasi KamiBijak

Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir, mengatakan AI harus menjadi teknologi yang membuka peluang bagi semua orang. Menurutnya, AI bukan hanya soal inovasi, tetapi juga alat untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas kesempatan ekonomi.

“Microsoft percaya AI dapat membantu lebih banyak masyarakat, termasuk perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas, untuk meningkatkan keterampilan dan berpartisipasi aktif dalam ekonomi digital,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menegaskan bahwa inklusivitas di era AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Ia menilai teknologi harus menjadi alat pemerdekaan yang menghormati martabat manusia dan membuka akses bagi seluruh warga negara.

Menurutnya, diskriminasi lama tidak boleh hidup kembali dalam teknologi baru. Karena itu, pengembangan AI harus memperhatikan aksesibilitas sejak awal, termasuk bagi penyandang disabilitas.

Baca Juga

Teknologi Inklusif Dinilai Penting untuk Mendukung Penyandang Disabilitas

Founder Alunjiva Indonesia, Nicky Clara mengatakan masih banyak kelompok rentan yang mengalami hambatan dalam mengakses teknologi. Karena itu, pendekatan berbasis komunitas menjadi penting agar literasi AI lebih mudah dipahami dan sesuai kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“AI harus menjadi alat pemberdayaan yang membuka peluang baru bagi semua orang,” katanya.

Sebagai penutup rangkaian program, digelar EQUAL Convening Summit bertajuk “Merayakan Perjalanan, Membangun Masa Depan AI yang Inklusif” di Gedung Komisi Nasional Disabilitas, Jakarta, pada 25 Mei 2026. Acara tersebut dihadiri berbagai tokoh lintas sektor dan lebih dari 350 peserta penyandang disabilitas dari wilayah Jabodetabek.

Diskusi publik dalam summit juga menyoroti pentingnya regulasi AI yang inklusif, perlindungan data, hingga akses teknologi yang adil bagi seluruh masyarakat. Para pembicara menekankan bahwa penyandang disabilitas tidak boleh hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga harus dilibatkan sebagai bagian aktif dalam pengembangan teknologi di Indonesia.

Sumber : Dokumentasi KamiBijak

Ke depan, program EQUAL akan terus dikembangkan melalui pendekatan berkelanjutan mulai dari pelatihan, pembentukan local champion, hingga penguatan ekosistem komunitas. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan talenta digital yang lebih siap menghadapi era transformasi teknologi sekaligus memastikan AI benar-benar menjadi milik semua orang.

Program EQUAL menjadi bukti bahwa pengembangan AI tidak boleh meninggalkan kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Kolaborasi Microsoft dan Alunjiva Indonesia menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan sosial jika dibangun dengan prinsip inklusivitas, aksesibilitas, dan kesetaraan bagi seluruh masyarakat. (Restu)

Sumber: dokumentasi per Senin 25 Mei 2026

Restu Lestari
Restu Lestari (Rei) Tuli Content Officer yang berfokus pada pembuatan dan pengelolaan konten seputar disabilitas, pendidikan inklusif, dan isu sosial agar masyarakat menjadi sadar dan peka tentang pentingnya inklusi dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.