KamiBijak.com, Hiburan - Pada tanggal 2 April yang lalu, dunia memperingati Hari Autis Internasional sebagai sebuah momentum penting untuk meningkatkan kesadaran tentang autisme. Peringatan ini bukan hanya sekadar seremonial, melainkan pengingat penting bahwa individu dengan autisme merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Mereka juga punya hak yang sama untuk hidup, berkembang, serta mendapatkan penghargaan atas martabatnya. Dalam konteks ini, pendekatan kemanusiaan menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan berempati.
Autisme bukan hanya sebuah kondisi medis, melainkan salah satu bentuk keberagaman dalam cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi. Hal ini ditegaskan oleh pelaksana program Preschool Skill di Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) Samarinda, Muhammad Pakoni Semedi, kepada RRI. Menurutnya, pendidikan seharusnya harus berjalan tanpa diskriminasi antara anak disabilitas dan non-disabilitas.
“Pernyataan tersebut menekankan pentingnya kesetaraan dalam akses pendidikan bagi semua anak, termasuk mereka yang berada dalam spektrum autism”, ujarnya, dikutip Selasa 28 April 2026.
Dalam praktiknya, tantangan untuk mewujudkan pendidikan inklusif masih kerap ditemukan. Pakoni menjelaskan, faktanya di lapangan masih ada anak-anak yang mengalami penolakan di sekolah tertentu. Meski demikian, ia menambahkan informasi bahwa saat ini sistem pendidikan terus bergerak menuju inklusivitas, di mana setiap sekolah diharapkan mampu menerima dan mendukung kebutuhan setiap anak berkebutuhan khusus tanpa diskriminasi.
Baca juga:
Peringatan Hari Autisme Sedunia 2 April dan Perkembangan Pemahamannya
“Peran orang tua juga menjadi kunci penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dengan autism,” katanya menambahkan.
Inklusi seharusnya bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Lingkungan sosial yang suportif akan berpengaruh besar terhadap perkembangan emosional dan sosial anak dengan keadaan autisme.
Sementara itu, salah seorang ibu yang memiliki dua anak autis, Novita Abu Kandariah, mengatakan tantangan terbesarnya terletak pada proses sosialisasi. Ia menjelaskan bahwa pendekatan bertahap, pendampingan intensif, serta komunikasi dengan guru dan lingkungan sekolah sangat diperlukan karena dapat membantu anak-anaknya dalam beradaptasi. Kisah ini menjadi inspirasi bahwa dengan kesabaran dan strategi yang tepat, anak dengan autisme dapat berkembang secara optimal.
Ilustrasi foto seorang Ibu dan dua anak autisme. (foto: klikdokter.com)
Di sisi lain, salah satu penggerak program disabilitas dan inklusi di Samarinda, Nurul Widayani, mengungkapkan masih banyak keluarga yang belum mau terbuka mengenai kondisi anak mereka. Faktor stigma sosial yang cenderung negatif sering kali menjadi penghalang utama. “Edukasi masyarakat perlu terus digencarkan agar tidak ada lagi rasa malu atau takut dalam menerima kondisi anak dengan autism,” ucapnya.
“Dukungan dari lembaga seperti Pusat Layanan Disabilitas sangat membantu dalam proses pendidikan anak saya,” katanya.
Ia kemudian mendapatkan rekomendasi sekolah yang tepat sehingga proses pendaftaran berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Hal ini semakin menunjukkan pentingnya kolaborasi antara orang tua, lembaga pendidikan, dan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus. (Irene)
Sumber: rri.co.id
