Hiburan

Kelelahan Digital Makin Parah di 2025! Psikolog Bongkar Cara Pulihkan Fokusmu

Digital fatigue bikin otak lelah dan sulit fokus. Ini cara pakar atasi kelelahan digital.

KamiBijak.com, Hiburan - Tahun 2025 menjadi masa keemasan dunia digital. Influencer bermunculan di mana-mana, konten semakin variatif, dan hampir semua orang kini hidup secara online. Namun di balik kemudahan dan konektivitas tanpa batas, muncul fenomena baru yang diam-diam melelahkan: digital fatigue.

Bukan sekadar mata yang pegal akibat layar, kelelahan digital juga memicu penurunan fokus, kabut mental, dan rasa tidak produktif. Kita hidup di era partial attention, pola hidup di mana perhatian terus terpecah. Mulai dari berpindah antar email, menatap layar Zoom, hingga tenggelam dalam guliran Instagram dan Netflix tanpa akhir.

Psikolog Mehezabin Dordi menjelaskan bahwa kelelahan digital kini menjadi masalah serius, terutama bagi pekerja yang aktivitasnya berbasis teknologi.

“Ada kelebihan beban kognitif karena otak kita terus terstimulasi. Tidak ada batas yang jelas antara waktu kerja, hiburan, dan istirahat. Dampaknya terasa pada fokus, energi, tidur, bahkan ketahanan emosional,” ungkapnya.

Untuk mengatasinya, Mehezabin menyarankan agar setiap orang mulai membangun jeda digital secara sadar.

“Berhenti sejenak di antara rapat, matikan notifikasi yang tidak penting, atau nikmati pagi tanpa ponsel. Lakukan aktivitas fisik seperti berjalan, memasak, atau menulis jurnal untuk kembali ke momen sekarang,” katanya.

Menurutnya, kuncinya bukan berhenti menggunakan teknologi, tetapi menggunakannya dengan kendali penuh, bukan sebaliknya.

Ilustrasi Digital Fatigue. (Foto : Dok. Katie Metz // Adriana Lacy)

 

Sementara itu, content creator populer Orry punya cara unik menghadapi kelelahan digital.

“Aku sudah merasa capek sejak Instagram muncul,” ujarnya sambil tertawa. “Solusiku sederhana: menonton diriku sendiri. Itu bikin aku ingat alasan aku online dari awal. Kadang kamu cuma perlu berhenti mengikuti semua orang lain.”

Psikolog klinis Sophia Peermohideen menambahkan, lonjakan kasus digital fatigue meningkat pesat sejak pandemi.

“Kita hidup dalam konektivitas tanpa henti, multitasking, banjir informasi, dan batas kerja yang kabur. Akibatnya muncul gejala seperti mata lelah, sakit kepala, cemas, sulit fokus, bahkan depresi,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya mengambil jeda digital secara terencana.“Tetapkan waktu tanpa layar, prioritaskan tidur, nutrisi, dan aktivitas offline. Jika perlu, konsultasikan ke profesional,” sarannya.

Bagi entrepreneur dan content creator Diipa Khosla, menjaga keseimbangan antara dunia online dan offline adalah kunci.

“Kalau kamu terus terhubung tanpa henti, kamu kehilangan perspektif,” ujarnya. “Aku selalu punya waktu khusus tanpa ponsel, seperti minum kopi atau berjalan tanpa headphone. Jeda kecil ini penting agar tetap autentik dan tidak kelelahan.”

Pada akhirnya, solusi digital fatigue bukanlah hal baru. Ia kembali pada prinsip lama: batasan, keseimbangan, dan keberanian untuk log off. Di tengah dunia yang terus mendorong konektivitas, kadang tindakan paling sehat yang bisa kamu lakukan adalah…keluar sejenak dari layar. (Restu)

Sumber : Cosmopolitan Indonesia