Butuh JBI, Pengalaman dan Harapan Teman Tuli di Final DBL Jakarta 2025
Teman Tuli menikmati DBL 2025 Jakarta lewat visual, namun menuntut akses JBI agar liga basket pelajar ini lebih ramah tuli.
KamiBijak.com, Hiburan - Atmosfer meriah Final Honda Developmental Basketball League (DBL) with Kopi Good Day 2025 Jakarta memadati Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jumat (21/11). DBL merupakan liga basket pelajar SMP dan SMA terbesar di Indonesia sejak didirikan pada tahun 2004, selalu sukses menyajikan tontonan yang memicu adrenalin. Pada hari yang penuh sejarah ini, antusiasme tak hanya datang dari penonton dengar, tetapi juga dari komunitas Tuli yang hadir untuk mendukung dan merasakan langsung semangat kompetisi.
Dua penonton Tuli, Karin yang berasal dari Padang dan kini tinggal di Jakarta, dan Darma asal Medan yang juga berdomisili di ibu kota, berbagi pengalaman mereka menyaksikan laga puncak antara SMA Jubilee dan SMAN 70 (putri) serta SMA Bukit Sion dan SMA Jubilee (putra).
Momen Paling Menggugah: Euforia Kemenangan dan Pilu Kekalahan
Baik Karin maupun Darma mengakui adanya sentuhan emosional yang kuat selama pertandingan.
Karin menceritakan perasaannya yang campur aduk. "Pertama awal lihat biasa, siap-siap mau tanding seru, menang. Tapi, lihat ada yang kalah, merasa sedih, 'Aduh, enggak apa-apa, nanti ke depan bisa berjuang, semangat dukung!'," ujar Karin.
Senada dengan Karin, Darma juga terharu menyaksikan pasang surut emosi di lapangan. "Tadi pertama aku datang melihat ada pertandingan, ada grup-grup. Ada kalah, ada menang. Kalau kalah sedih, karena lihat orang sedih, merasa tersentuh. Yang penting dukung semangat," kata Darma.
Aksesibilitas: Butuh Juru Bahasa Isyarat (JBI)
Karin, Salah Satu Penonton Tuli (Foto : dok. KamiBijak)
Karin mengungkapkan rasa syukurnya atas visual yang ada, namun tetap merasakan ada kekurangan. "Betul DBL, aku sudah merasa ramah, tapi masih kurang akses JBI. Tapi tetap bisa menikmati dan memahami pertandingan menggunakan visual seperti layar TV besar," jelasnya. Adanya tayangan visual di layar besar sangat membantu Karin untuk memahami alur dan dinamika pertandingan.
Namun, Darma memiliki pandangan yang lebih kritis. Ia merasa akses untuk Tuli masih kurang optimal. "Aku lihat enggak ada akses untuk Tuli, kurang bantu, kurang nyaman. Terima kasih," tegas Darma, menekankan bahwa tanpa aksesibilitas yang memadai, kenyamanan mereka sebagai penonton Tuli menjadi berkurang.
Harapan untuk Masa Depan DBL yang Lebih Inklusif
Sebagai penutup, kedua penonton ini menyampaikan harapan besar agar DBL ke depan dapat lebih inklusif.
Karin menyampaikan pesan yang jelas untuk penyelenggara. "Pesan untuk Tuli: memberi butuh akses JBI. Kalau ada, undang, ajak dong! Tetap sedia JBI. Terima kasih," Ujar Karin.
Sementara itu, Darma mengajak teman-teman Tuli untuk terus datang dan meminta bantuan JBI untuk memfasilitasi pemahaman suasana. "Ajak teman-teman Tuli datang. Bisa tolong bantu JBI supaya paham suasana," tutup Darma.
Pengalaman Karin dan Darma di Final DBL Jakarta 2025 menjadi pengingat penting bahwa olahraga adalah milik semua dan aksesibilitas terutama Juru Bahasa Isyarat, adalah kunci untuk memastikan setiap orang, termasuk Teman Tuli, dapat sepenuhnya merasakan kegembiraan dan semangat dari kompetisi bergengsi ini. (Keisha/MG)
Sumber : Wawancara
Video Terbaru
MOST VIEWED
