Hiburan

Bukan dengan Memberi Hukuman, Cara Ini Lebih Efektif untuk Mendisiplin Remaja

Orang tua harus menemukan cara yang lebih efektif untuk mendisiplin anak remaja selain dengan pemberian hukuman.

KamiBijak.com, Hiburan  - Memberikan ancaman hukuman sering kali menjadi cara jitu bagi orang tua untuk mendisiplinkan anak. Biasanya ditunjukkan dengan orang tua menyita gawai anak, melarang anak pergi ke tempat favorit, hingga menyuruh mereka diam di dalam kamar. 

Meskipun memang terbilang keras, memberi hukuman kepada anak remaja sepertinya kurang mempan. Apalagi dengan kondisi remaja di zaman sekarang ini, mereka malah menunjukkan sikap tidak acuh atau bahkan melanggar hukuman yang diberikan.

Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan otak yang unik. Sebab sistem penguatan imbalan (seperti ventral striatum) akan berkembang lebih cepat daripada sistem kontrol (prefrontal cortex) yang mengatur impuls dan memprediksi konsekuensi jangka panjang. 

Akibat dari ketidakseimbangan ini, remaja menjadi lebih termotivasi pada nasihat serta menerima masukan dari teman sebayanya. Sehingga ancaman dan konsekuensi malah menjadi abstrak. Itulah yang menyebabkan hukuman dengan konsekuensi menjadi tidak ada efek, karena otak mereka secara natural lebih memprioritaskan masalah sosialnya.

Hasil tinjauan dari berbagai macam studi menunjukkan bahwa memberi hukuman keras baik itu hukuman fisik atau verbal malah memberikan hasil yang negatif. Hukuman justru bisa meningkatkan masalah perilaku pada anak, memperburuk relasi orang tua dan anak, serta internalisasi moral yang rendah. Jadi apa yang sebaiknya dilakukan orang tua? 

  1. Parenting Authoritative

Parenting authoritative adalah menggabungkan batasan yang jelas dengan responsif dari penjelasan. Atau sederhananya menjadi tegas dalam hal prinsip yang tidak bisa ditawar oleh anak, misalnya pendidikan dan keselamatan. Lalu uraikan juga penjelasan yang ada hubungannya dengan aturan, serta mendengarkan pandangan dari anak agar dirinya merasa adil.

 

  1. Ganti Hukuman dengan Konsekuensi Logis

Berikan konsekuensi logis yang dirasa berhubungan langsung dengan pilihan anak. Misalnya jika meminta tidur larut, berarti konsekuensinya harus bangun lebih pagi di keesokan hari. Konsekuensi yang konsisten dan tidak berlawanan dengan pilihan anak terbukti lebih efektif daripada memberikan hukuman yang sewenang-wenang.

 

  1. Menghargai Perilaku Positif

Jika anak menunjukkan perilaku positif, berikan pujian atau reward yang tidak berlebihan. Dikutip dari Times of India (30/9/2025). Hal ini akan menciptakan kebiasaan baik daripada terus menekan perilaku buruk mereka.

Ilustrasi Ibu berkomunikasi dengan anak. (foto: Prostock-studio/Shutterstock)

 

  1. Buka Komunikasi 

Cobalah untuk mulai membuka komunikasi untuk menyelesaikan masalah bersama dan memberikan motivasi. Pendekatan yang suportif akan memberi ruang bagi anak remaja untuk menjabarkan secara detail perubahan diri mereka. Bertanya, merefleksikan bersama, meminta izin untuk menyampaikan pendapat mengenai pilihan remaja, serta mencari solusi bersama tentu lebih baik daripada memberikan ultimatum.

 

  1. Lakukan Pendekatan Restoratif & Rasional

Saat remaja melakukan kesalahan, ber ruangi ketenangan dan ajak mereka untuk berdiskusi. Cari tahu situasi apa yang terjadi, siapa yang terpengaruh, apa hal yang bisa diperbaiki, serta bagaimana cara mencegah mengulang kesalahan yang serupa secara bersama-sama. Tentunya berfokus pada pemulihan kerusakan dan akuntabilitas akan jauh lebih baik daripada memberikan hukuman di berpotensi menekan anak. 

Perlu diketahui cara-cara di atas tidak hanya dapat membantu mengurangi perilaku buruk anak, tetapi juga memperkuat hubungan antara orang tua dan remaja. Dengan begitu diharapkan anak remaja dapat bertumbuh dengan sehat secara fisik dan mental. (Irene)

Sumber: women.okezone.com