Kuliner

Bukan Cuma Rasa, Ini Makna Filosofis Kuliner ‘Campur-campur’ di Banyuwangi

Kuliner campur seperti rujak soto & pecel rawon Banyuwangi cerminkan adaptasi. Keterbukaan dan akulturasi budaya Osing.

KamiBijak.com, Kuliner - Kuliner Banyuwangi dikenal memiliki ciri khas yang unik, yaitu campur-campur. Bukan hanya sekedar trend, melainkan sebuah cerminan mendalam dari identitas budaya masyarakatnya. Dari perpaduan antara rujak dengan kuah soto yang melahirkan rujak soto, hingga nasi pecel yang disiram kuah rawon. 

 

(foto : Gresik Satu)

 

Fenomena kuliner campur-campur ini adalah cerminan dari kekayaan akulturasi rasa yang berkembang di banyuwangi. Tradisi ini tak lepas dari sejarah interaksi budaya di daerah tersebut. Kebiasaan mencampur makanan bukan sekadar kreativitas kuliner, melainkan cerminan akulturasi budaya yang berlangsung sejak lama. 

 

Campuran bahan tidak hanya menciptakan cita rasa yang khas yang unik di lidah, tetapi juga menggambarkan identitas budaya yang secara inheren terbuka dan fleksibel. Kekhasan ini mencerminkan semangat masyarakat yang berani melampaui batas-batas tradisi menghasilkan kreasi kuliner otentik yang hanya ditemukan di daerah berjuluk The Sunrise of Java. 

 

  • Makna di balik tradisi mencampur hidangan

Sifat kuliner yang suka mencampur ini sangat terkait dengan karakteristik masyarakat aslinya, yaitu suku Osing. Budayawan setempat menyebutkan bahwa orang Osing dikenal sebagai masyarakat yang fleksibel, adaptif dan menerima apapun yang datang. Sifat ini kemudian tercermin dalam ranah kesenian hingga makanan. 

 

Proses mencampur ini biasanya diawali dari uji coba. Ketika masyarakat mencoba memadukan dua atau lebih jenis makanan, dan ternyata perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa yang enak dan dapat diterima secara luas, maka hidangan itu akan menjadi populer dan dipertahankan. Inilah yang membuat kuliner ‘Campur-campur’ terus berkembang.

 

  • Rujak Soto hingga Pecel Rawon

Dalam buku “Jendela Indonesia: Campur-Mencampur Ala Banyuwangi-an” (2021) terbitan Litbag Kompas, dua hidangan ‘Campur’ yang paling digemari di banyuwangi adalah Rujak Soto dan Pecel Rawon. 

 

Rujak Soto adalah kombinasi unik dari rujak uleg atau rujak cingur (yang menggunakan bumbu petis) yang kemudian disajikan dengan siraman kuah soto.

 

(foto : Kompas)

Pecel Rawon menggabungkan pecel khas Madiun dengan Rawon dari Surabaya. Satu porsi pecel rawon terdiri dari nasi yang dilengkapi dengan sayuran rebus seperti bayam, tauge, dan karang panjang yang dilumuri sambal pecel. Seluruh komponen ini kemudian disiram dengan kuah rawon berwarna hitam. Sebagai pelengkap, hidangan ini diberi lauk tambahan, termasuk udang goreng, empal, ragi, paru goreng serta rempeyek kacang. 

 

Melalui kekayaan akulturasi rasa ini, kuliner Banyuwangi membuktikan bahwa praktik mencampur bahan makanan yang berbeda bukan menandakan kekacauan. Sebaliknya, hal ini adalah sebuah metode bagi masyarakat untuk merayakan keberagaman. Penggabungan berbagai bahan ini tidak hanya menghasilkan cita rasa yang khas, tetapi juga merefleksikan identitas budaya daerah yang luwes, terbuka, dan adaptif. (Keisha/MG)

 

Sumber : Kompas