Hiburan

Waspada! Banyak Anak Alami Speech Delay, Ini Tanda Bahaya dan Cara Mengatasinya

Kenali ciri speech delay pada anak dan cara efektif mengatasinya sejak dini.

KamiBijak.com, Hiburan - Keterlambatan bicara atau speech delay adalah kondisi ketika anak mengalami hambatan dalam mengembangkan kemampuan berbicara dan memahami bahasa sesuai tahapan usianya. Situasi ini cukup umum terjadi pada anak usia 3–16 tahun. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2021, sekitar 42,5% anak prasekolah di Indonesia mengalami masalah perkembangan bahasa. Jika tidak ditangani dengan cepat, speech delay dapat memengaruhi kemampuan sosial, akademik, hingga perilaku anak di masa depan. Karena itu, mengenali tanda awal dan melakukan penanganan tepat sangat penting.

Tanda Speech Delay Berdasarkan Usia

Setiap anak memang berkembang dengan tempo yang berbeda, namun ada indikator dasar yang bisa membantu orang tua mengenali adanya potensi keterlambatan bicara.

Pada usia 12 bulan, waspadai jika anak tidak menggunakan gestur seperti melambaikan tangan, tidak bereaksi terhadap namanya, atau belum mengucapkan kata sederhana seperti “mama” dan “papa”. Anak juga mungkin terlihat kurang tertarik pada hal-hal yang biasanya membuat bayi penasaran.

Ketika memasuki 18 bulan, perhatian khusus dibutuhkan jika anak lebih banyak menggunakan gerakan tubuh daripada kata-kata, sulit meniru suara, dan memiliki kurang dari 10 kosakata bermakna. Pada usia 21–30 bulan, anak yang belum mencapai sekitar 50 kosakata, hanya meniru kata tanpa bicara spontan, atau tidak bisa mengikuti instruksi sederhana juga patut diwaspadai.

Di usia 3 tahun, tanda speech delay terlihat jika anak masih sulit dipahami oleh orang di luar keluarga atau belum mampu merangkai 3–4 kata dalam satu kalimat.

Penyebab Speech Delay pada Anak

Keterlambatan bicara bisa dipicu oleh berbagai faktor. Penyebab fungsional seperti kurangnya stimulasi, minim interaksi, pola asuh yang kurang mendukung, hingga paparan gadget berlebihan sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak.

Di sisi lain, penyebab non-fungsional mencakup gangguan pendengaran, masalah pada saraf atau struktur mulut, serta kondisi medis seperti autisme, ADHD, atau disabilitas intelektual. Faktor lingkungan dan psikososial, termasuk trauma atau kurangnya dukungan emosional, juga bisa memicu hambatan berbahasa.

Stimulasi di Rumah untuk Membantu Anak

Orang tua memiliki peran besar dalam membantu mengatasi speech delay. Langkah sederhana namun sangat efektif adalah rutin mengajak anak berbicara. Lakukan percakapan dua arah, berikan waktu bagi anak untuk merespons, dan gunakan kalimat yang mudah dipahami. Membacakan cerita, mendongeng, dan bernyanyi juga sangat bermanfaat untuk memperkaya kosakata.

Libatkan anak dalam permainan kata atau aktivitas bernyanyi yang menyenangkan. Tanggapi setiap ucapan anak dengan positif, dan perluas kalimatnya agar ia belajar struktur bahasa. Batasi penggunaan gadget, terutama untuk anak di bawah usia dua tahun.

Peran Terapi Profesional

Jika stimulasi di rumah belum menunjukkan hasil atau ada dugaan kondisi medis tertentu, terapi wicara sangat dianjurkan. Terapis wicara akan melatih kemampuan produksi suara, memperkuat otot mulut, serta mengembangkan kemampuan berbahasa anak. Terapi pendukung seperti terapi okupasi atau sensorik-motorik juga bisa direkomendasikan sesuai kebutuhan.

Kapan Harus ke Dokter?

Orang tua perlu segera berkonsultasi jika anak tidak mengoceh di usia 2 bulan, tidak mengucapkan kata sederhana di usia 18 bulan, atau belum menggabungkan dua kata di usia 2 tahun. Pemeriksaan dokter, termasuk tes pendengaran dan evaluasi tumbuh kembang, membantu menentukan penyebab dan langkah terapi terbaik. (Restu)

 

Sumber : Fimela