Hiburan

Dari Balkon Jadi Ladang Emas: Tren Urban Farming yang Bikin Hidup Lebih Hijau dan Untung!

Urban farming jadi tren hijau kota besar. Bukan cuma hobi, tapi peluang bisnis berkelanjutan.

KamiBijak.com, Hiburan - Di tengah padatnya kehidupan perkotaan, muncul satu tren yang menyejukkan: urban farming atau pertanian kota. Jika dulu bercocok tanam hanya dilakukan di pedesaan, kini aktivitas ini menjamur di tengah gedung tinggi dan permukiman padat.

Menariknya, urban farming bukan sekadar hobi untuk melepas stres, tetapi juga peluang bisnis yang menjanjikan di tengah gaya hidup modern. Di kota besar, ruang hijau semakin terbatas. Namun, banyak orang tak kehabisan akal untuk tetap “berteman” dengan alam. Dari balkon kecil, teras sempit, hingga dinding kosong, semua bisa disulap menjadi taman produktif.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat urban mulai merindukan koneksi dengan bumi. Di era serba digital, menanam sayur atau buah sendiri menjadi bentuk sederhana perlawanan terhadap stres, polusi, dan konsumsi berlebihan. Aktivitas ini tak hanya menghadirkan ketenangan, tapi juga kesadaran baru tentang pentingnya keberlanjutan.

Kini, urban farming telah bertransformasi menjadi simbol gaya hidup hijau. Saat kamu menanam sendiri bahan makanan, kamu bukan cuma mendapatkan hasil segar, tapi juga ikut mengurangi jejak karbon dari distribusi panjang produk supermarket. Bahkan, hal sederhana seperti mengolah sisa dapur menjadi kompos dapat membantu mengurangi sampah rumah tangga yang berakhir di TPA.

Tak sedikit yang menjadikan kegiatan ini sebagai bentuk self-healing alami. Menghabiskan waktu di bawah sinar matahari, mencium aroma tanah, dan melihat tanaman tumbuh ternyata memberikan efek positif bagi kesehatan mental.

Melihat antusiasme masyarakat terhadap gaya hidup hijau, urban farming kini berkembang menjadi bisnis bernilai tinggi. Banyak pengusaha menghadirkan konsep yang memadukan edukasi, pengalaman, dan keberlanjutan. Ada yang membuka kelas dan workshop menanam, menyediakan paket starter kit lengkap berisi bibit dan pupuk, hingga menawarkan jasa instalasi kebun untuk rumah, kantor, dan sekolah.

(Foto : Dok. Freepik)

 

Salah satu pelopornya adalah Kebun Kumara di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Didirikan oleh Rara Sekar Larasati dan Ratri Ninditya, Kebun Kumara hadir untuk mengembalikan hubungan manusia dengan alam. Tempat ini bukan hanya kebun, tapi juga ruang belajar ekologi dan keberlanjutan. Pengunjung bisa ikut workshop membuat kompos, menanam sayur, atau mengelola sampah organik agar tak terbuang percuma.

Mereka berpegang pada filosofi sederhana:

“Kebun bukan sekadar tempat menanam, tapi ruang belajar hidup selaras dengan alam.”

Gerakan serupa juga muncul di berbagai kota. Growlab Indonesia di Jakarta fokus pada kebun vertikal dan sistem hidroponik, sementara Alamanda Urban Farming di Yogyakarta mengajarkan ketahanan pangan lokal lewat kegiatan komunitas.

Semua inisiatif ini menunjukkan satu hal: urban farming bukan sekadar tren sementara, tapi langkah nyata menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Siapkah kamu menanam perubahan dari rumahmu sendiri? (Restu)

 

Sumber : Fimela