Travel

Tips Salat di Pesawat untuk Traveler Muslim: Tata Cara dan Ketentuan Saat Bepergian

Panduan salat di pesawat bagi traveler Muslim: arah kiblat, posisi tubuh, dan aturan aman selama penerbangan.

KamiBijak.com, Travel - Bagi Muslim, menjalankan sholat merupakan kewajiban utama yang tidak boleh ditinggalkan, termasuk ketika sedang berada dalam perjalanan jauh seperti di dalam pesawat. Meski konteks ruangannya berbeda dari di daratan atau masjid, umat Muslim tetap dianjurkan untuk melaksanakan sholat fardu sesuai waktu dan kondisi terbaik yang memungkinkan. Ini menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika pesawat sedang terbang dan ruang gerak sangat terbatas.

Salat di pesawat memungkinkan dilakukan asalkan syarat dan rukun sholat tetap diperhatikan semaksimal mungkin. Secara umum, sholat sah bergantung pada terpenuhinya syarat seperti menutup aurat, mengetahui arah kiblat, serta melaksanakan gerakan sholat dari takbir sampai salam. Namun, kondisi dalam pesawat membuat sebagian ketentuan perlu sedikit disesuaikan berdasarkan situasi lingkungan.

Ilustrasi Salat di Pesawat. (Foto : UIN Antasari)

 

Menghadap Kiblat Selama Penerbangan

Para ulama sepakat bahwa umat Muslim diwajibkan menghadap kiblat sejak takbiratul ihram hingga salam dalam sholat fardu. Dalam kondisi normal di daratan, ini berarti berorientasi secara fisik menuju Ka’bah di Makkah. Di pesawat, arah kiblat bisa berubah sepanjang perjalanan karena posisi pesawat bergerak. Dalam keadaan seperti ini, Muslim dianjurkan untuk berusaha menghadap kiblat semampunya. Cara simpel untuk mengetahui arah kiblat saat di udara bisa dengan menggunakan aplikasi kompas kiblat, menanyakan kepada awak kabin, atau memperkirakan berdasarkan peta arah perjalanan pesawat.

 

Standar Posisi Sholat

Sholat pada dasarnya dilakukan dalam posisi berdiri, ruku, dan sujud jika dimungkinkan. Namun di pesawat situasinya sering kali tidak memungkinkan karena ruang sempit atau aturan keselamatan yang membatasi berdiri saat kursi tidak aman. Dalam kondisi seperti itu, Muslim boleh melaksanakan sholat dalam posisi duduk di kursinya. Hal ini sejalan dengan kaidah fiqh yang memberi kelonggaran dalam ibadah ketika menghadapi keterbatasan atau rintangan yang tidak bisa dihindari.

Posisi duduk saat sholat sebaiknya dilakukan dengan niat dan kesungguhan, serta tetap mengusahakan rukun sholat lain seperti takbir dan membaca surat. Sebagian ulama menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan sesuai kemampuan dalam kondisi sulit tetap sah dan diterima, selama tidak disengaja meremehkan kewajiban agama.

 

Waktu Sholat di Udara dan Tata Cara Penentuan

Menentukan waktu salat di pesawat terkadang sulit karena perjalanan bisa melintasi berbagai zona waktu. Dalam hal ini, waktu sholat yang harus diikuti adalah waktu sholat berdasarkan lokasi dan waktu saat ini selama penerbangan. Beberapa Muslim menggunakan aplikasi waktu salat yang dapat menghitung jadwal berdasarkan titik koordinat penerbangan untuk membantu menentukan waktu yang tepat.

Jika waktu sholat hampir habis dan belum menemukan posisi yang pas untuk sholat lengkap, umat Muslim diberi kelonggaran oleh para ulama untuk tetap menunaikan salat dengan cara yang tersedia, namun setelah mendarat, sholat tersebut bisa diulangi (diqadha) apabila dianggap tidak sempurna sesuai ketentuan.

 

Etika dan Keselamatan Saat Salat di Pesawat

Sebelum salat, pastikan kondisi pesawat dalam keadaan stabil tanpa rambu keselamatan yang melarang berdiri, seperti lampu tanda sabuk pengaman menyala. Selalu minta izin atau konfirmasi kepada awak kabin agar tidak mengganggu penumpang lain dan tetap menjaga keselamatan bersama.

Kesadaran untuk tetap menunaikan sholat saat bepergian menunjukkan komitmen Muslim untuk menjaga ibadah di segala situasi. Salat di pesawat menjadi simbol dedikasi spiritual, sekaligus pemahaman akan kelonggaran Islam untuk memberikan kemudahan bagi umatnya ketika menghadapi kondisi yang tidak ideal. (Sindi/PKL)

Sumber : Kumparan