Hiburan

Tips Aman Puasa Ramadan bagi Pengidap Parkinson, Ini Catatan Dokter

Dokter saraf beri panduan aman puasa Ramadan bagi pengidap Parkinson, termasuk risiko obat dan penyesuaian dosis.

KamiBijak.com, Hiburan - Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Muslim. Namun, bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu, termasuk penyakit Parkinson, puasa bisa ditinggalkan jika berisiko memperburuk kesehatan.

 

Dokter spesialis saraf dari RS EMC Alam Sutera dan Sentul, dr. Gloria Tanjung, menjelaskan bahwa pasien Parkinson yang ingin berpuasa perlu memperhatikan beberapa hal penting.



1. Risiko Menghentikan Obat dan Mengubah Jadwal Minum saat Puasa

 

Penghentian obat Parkinson secara tiba-tiba saat puasa dapat memperburuk gejala. 

Kondisi seperti kekakuan yang semakin berat hingga tidak bisa bergerak sama sekali dapat terjadi. Pasien yang biasanya mengonsumsi obat lebih dari tiga kali sehari berisiko mengalami fluktuasi motorik, seperti kaku, tremor, dan sulit bergerak karena hanya minum obat saat sahur dan berbuka.

 

Selain itu, mengonsumsi obat dalam dosis besar sekaligus saat berbuka juga berisiko menimbulkan diskinesia, yakni gerakan abnormal akibat lonjakan dopamin yang mendadak di otak.



2. Tingkat Keparahan Parkinson Menentukan Aman atau Tidaknya Berpuasa

 

Setiap pasien Parkinson memiliki kondisi yang berbeda, sehingga diperlukan evaluasi medis menyeluruh sebelum memutuskan untuk berpuasa. Tingkat keparahan penyakit turut menentukan risikonya.

 

Secara umum, pasien dengan Parkinson derajat ringan masih dapat berpuasa dengan penggunaan obat berdurasi kerja panjang. Pada derajat sedang, puasa tetap memungkinkan dengan penyesuaian jenis dan dosis obat. Sementara itu, pasien dengan derajat berat memiliki risiko tinggi jika berpuasa, kecuali mendapat terapi lanjutan atau advanced therapy.



3. Evaluasi dan Penyesuaian Obat Jadi Kunci Aman Puasa bagi Pasien Parkinson

 

Bagi pasien yang dinilai aman untuk berpuasa, perlu dilakukan evaluasi regimen obat sebelum Ramadan. Penyesuaian dosis maupun jenis obat sebaiknya dilakukan lebih awal agar tubuh dapat beradaptasi.

 

Menurut Gloria, puasa memang menjadi tantangan bagi pasien Parkinson. Namun, bukan berarti mustahil dijalankan selama kondisi pasien optimal dan pengobatan terkontrol. Ia menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter spesialis saraf sebelum memutuskan berpuasa.

 

Penyakit Parkinson sendiri merupakan gangguan neurodegeneratif yang banyak terjadi pada usia di atas 60 tahun, meski bisa juga menyerang usia lebih muda. Penyakit ini disebabkan oleh penurunan dopamin di otak dan menimbulkan gejala seperti gerakan lambat, kaku, serta tremor. Salah satu terapi utama adalah levodopa, yang bekerja sebagai prekursor dopamin dan umumnya perlu dikonsumsi beberapa kali sehari karena durasi kerjanya singkat. (Keisha/MG)

 

Sumber : Liputan6

Keisha