KamiBijak.com, Hiburan – Apakah seorang anak penyandang autisme dapat tumbuh menjadi ilmuwan besar, penemu, hingga tokoh penggerak perubahan di tingkat dunia? Jawabannya adalah sangat mungkin, dan sosok Dr. Mary Temple Grandin telah menjadi bukti nyatanya. Lahir di Boston, Massachusetts pada 29 Agustus 1947, perempuan luar biasa ini tidak hanya berhasil mengatasi berbagai tantangan sebagai penyandang autisme, tetapi juga mampu mengubah wajah industri peternakan di Amerika Serikat serta menjadi suara penting bagi komunitas autisme global.
Temple Grandin saat menyampaikan pidato dalam Konferensi Nasional National Association of College and University Food Services 2013 di Minneapolis. (Dok. Wikimedia)
Perjalanan hidup Temple Grandin di masa kecil tidaklah mudah. Pada usia dua tahun, ia mengalami keterlambatan bicara dan kepekaan sensorik yang tinggi terhadap suara serta sentuhan. Kala itu, tim medis sempat menyarankan agar Grandin dimasukkan ke dalam institusi pengasingan khusus karena dianggap tidak dapat berkembang secara normal. Namun, sang ibu, Anna Cutler, menolak keras saran tersebut dan berjuang memberikan terapi bicara serta pendidikan yang suportif di Dedham Country Day School.
Memasuki masa remaja, Grandin kerap menjadi korban perundungan oleh teman-temannya hingga dipanggil "kaset rusak". Pengalaman pahit tersebut mengantarkannya ke peternakan milik sang bibi di Arizona, tempat di mana ia mulai menemukan kecintaan mendalam terhadap perilaku hewan.
Dukungan dari mentornya, William Carlock, yang merupakan mantan ilmuwan NASA, berhasil membakar kepercayaan diri Grandin untuk terus melangkah di dunia sains. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar Ph.D. di bidang Animal Science dari University of Illinois at Urbana-Champaign pada 1989. Kini, ia menjabat sebagai Profesor Ilmu Hewan di Colorado State University dan diakui secara internasional sebagai pakar desain sistem penanganan ternak yang mengedepankan kesejahteraan hewan. Fasilitas perancangan Grandin bahkan digunakan untuk menangani lebih dari 50 persen ternak di Amerika Serikat guna mengurangi stres pada hewan secara manusiawi.
Selain dikenal sebagai ilmuwan dan penemu alat kelayakan ternak, Grandin merupakan salah satu tokoh autisme pertama yang secara terbuka membagikan pengalaman pribadinya melalui buku-buku best-seller seperti Emergence: Labeled Autistic, Thinking in Pictures, dan The Autistic Brain. Atas kontribusinya yang luar biasa, namanya masuk dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia versi Majalah Time pada 2010 dalam kategori Heroes, serta diabadikan dalam film biografi pemenang penghargaan Golden Globe.
Baca juga:
Mengenal Stephen Hawking: Fisikawan Jenius Disabilitas ALS yang Mendobrak Batas Sains Dunia
Peta pemikiran Grandin mengenai perlakuan etis terhadap hewan dan keberagaman spektrum autisme selalu menekankan pentingnya penghormatan pada setiap mahluk hidup. Mengenai pandangannya terhadap etika pengelolaan hewan ternak, Grandin pernah menegaskan pemikirannya secara langsung.
Saya pikir menggunakan hewan untuk makanan adalah hal yang etis untuk dilakukan, tetapi kita harus melakukannya dengan benar. Kita harus memberi hewan-hewan itu kehidupan yang layak, dan kita harus memberi mereka kematian tanpa rasa sakit. Kita berutang rasa hormat kepada hewan-hewan tersebut,
ungkap Grandin.
Kisah hidup Dr. Temple Grandin mengajarkan kepada dunia bahwa keunikan cara berpikir penyandang autisme bukanlah sebuah hambatan, melainkan sebuah kekuatan yang mampu melahirkan inovasi besar bagi kemanusiaan. (Fania/Magang)
Sumber: Klinik Niu Miu
