Tak Banyak yang Sadar, Dehidrasi Juga Bisa Dialami Saat Musim Hujan
Dehidrasi bisa terjadi meski cuaca dingin. Kenali gejalanya dan cara mencegahnya.
KamiBijak.com, Kuliner - Musim hujan seringkali diasosiasikan dengan suasana sejuk, mendung, dan kebutuhan akan minuman hangat. Namun, di balik suasana dingin yang menenangkan ini, tersimpan bahaya kesehatan yang sering diabaikan yaitu dehidrasi. Banyak orang keliru mengira bahwa dehidrasi hanya terjadi saat cuaca panas terik atau setelah aktivitas fisik berat. Padahal, tubuh kita tetap kehilangan cairan secara konstan, bahkan saat suhu udara sedang rendah. Simak penjelasannya di bawah ini!
1. Mengapa Kita Jarang Merasa Haus Saat Musim Hujan?
Salah satu alasan utama mengapa dehidrasi kerap terjadi saat musim hujan adalah penurunan sensitivitas rasa haus. Suhu dingin atau sejuk membuat pembuluh darah di dekat permukaan kulit menyempit (vasokonstriksi) untuk mempertahankan panas tubuh inti. Proses ini dapat mengurangi sinyal ke otak yang memicu rasa haus, sehingga kita cenderung minum lebih sedikit.
Selain itu, saat musim hujan, kita mungkin juga lebih sering buang air kecil. Ini bisa disebabkan oleh fenomena yang disebut diuresis dingin. Ketika tubuh terpapar suhu dingin, respon alaminya adalah meningkatkan produksi urine untuk mengurangi volume darah di permukaan kulit dan mengkonsentrasikan panas di organ vital. Peningkatan frekuensi buang air kecil ini, jika tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup akan mempercepat terjadinya dehidrasi.
2. Tanda-tanda Dehidrasi yang Sering Terlewat
a. Karena rasa haus tidak menjadi indikator yang kuat, penting untuk mengenali tanda-tanda dehidrasi lain yang mungkin muncul secara samar
b. Sakit Kepala Ringan: Sering dianggap sebagai gejala masuk angin atau kelelahan, padahal bisa jadi ini adalah sinyal otak kekurangan cairan.
c. Warna Urine Gelap: Ini adalah indikator yang paling jelas. Urine berwarna kuning pekat menunjukkan tubuh sedang berhemat air.
d. Kelelahan dan Lesu: Rasa malas, lemas, atau kesulitan berkonsentrasi adalah tanda bahwa fungsi metabolisme tubuh mulai melambat karena kekurangan cairan.
(foto : enesis)
e. Kulit Kering dan Bibir Pecah-pecah: Kelembapan udara yang tinggi tidak menjamin hidrasi kulit. Kekurangan cairan internal akan tetap menyebabkan kekeringan pada kulit dan membran mukosa.
3. Tips Sederhana untuk Tetap Terhidrasi
Untuk mencegah dehidrasi di musim hujan, ada beberapa langkah mudah yang bisa Anda terapkan:
a. Minum Sesuai Jadwal: Terapkan kebiasaan minum segelas air setiap 1-2 jam.
b. Manfaatkan Minuman Hangat: Karena cuaca dingin, ganti sebagian air putih dengan minuman hangat non-kafein, seperti teh herbal tawar atau air jahe.
c. Konsumsi Buah dan Sayur Berair: Sayuran dan buah seperti sup hangat, semangka, mentimun, dan jeruk memiliki kandungan air yang tinggi dan dapat berkontribusi signifikan pada asupan cairan harian Anda.
d. Perhatikan Asupan Kafein: Kopi dan teh bersifat diuretik, yang berarti dapat meningkatkan pengeluaran cairan.
Dehidrasi, sekecil apapun tingkatnya, dapat mengganggu fungsi kognitif, menurunkan sistem imun, dan membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Di musim hujan, di mana penyakit seperti flu dan batuk mudah menular, menjaga hidrasi adalah kunci untuk mempertahankan daya tahan tubuh yang optimal. (Keisha/MG).
Sumber : Detik
Video Terbaru
MOST VIEWED
