Hiburan

Seperlima Penyakit Penyebab Disabilitas Disebabkan Katarak, Kenali Penyebab dan Gejalanya

Katarak sumbang seperlima kasus disabilitas penglihatan di Indonesia. Kenali gejala dan penanganannya.

KamiBijak.com, Hiburan – Masalah kesehatan mata kini menjadi salah satu tantangan serius yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa seperlima kasus penyakit yang menjadi penyebab disabilitas fisik maupun fungsi penglihatan di tanah air bersumber dari gangguan mata, dengan katarak sebagai penyumbang terbesar.

Meskipun tidak memicu kematian secara langsung, kondisi katarak yang tidak ditangani dengan cepat dapat menurunkan produktivitas harian individu secara signifikan, terutama di tengah transisi Indonesia menuju era penuaan penduduk (aging population).

Mengenal Apa Itu Katarak dan Penyebab Utamanya

Secara medis, katarak merupakan kondisi ketika lensa mata yang semula jernih perlahan menjadi keruh. Lensa yang berada di belakang iris dan pupil bertugas memfokuskan cahaya ke retina agar seseorang dapat melihat gambar secara tajam. Ketika katarak berkembang, gumpalan protein pada lensa menghalangi jalurnya cahaya menuju retina, sehingga penglihatan tampak buram seperti berkabut.

Faktor utama penyebab dan pemicu katarak:

  • Penuaan Alami: Faktor tersering di mana lensa mata menebal dan kehilangan fleksibilitas seiring bertambahnya usia.
  • Riwayat Kesehatan: Pengidap penyakit tertentu seperti diabetes melitus, hipertensi, atau gangguan metabolisme.
  • Faktor Eksternal: Paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan dalam jangka panjang serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.
  • Trauma & Pengobatan: Riwayat cedera atau benturan pada mata, serta penggunaan obat jangka panjang seperti kortikosteroid.

Pemerintah terus menggalakkan deteksi dini serta penanganan medis guna menekan angka kebutaan akibat katarak yang tergolong tinggi di tingkat nasional.

Gangguan penglihatan, termasuk katarak, memang tidak memicu kematian secara langsung, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang. Pemerintah bersama Perdami berkomitmen mengurai antrean operasi katarak,

ujar Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono.

Gejala Awal dan Metode Pengobatan Katarak

Gejala katarak umumnya berkembang secara bertahap tanpa rasa sakit pada fase awal. Beberapa tanda umum yang perlu diwaspadai meliputi penglihatan kabur, mata sensitif terhadap cahaya (silau), melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu, warna tampak pudar, hingga kesulitan melihat di malam hari.

Satu-satunya metode pengobatan yang terbukti efektif untuk menyembuhkan katarak adalah melalui tindakan operasi. Pemerintah menetapkan target rasio operasi katarak (Cataract Surgical Rate) minimal 3.000 tindakan per satu juta penduduk setiap tahunnya.

Jenis tindakan operasi katarak yang umum dilakukan:

  • Fakoemulsifikasi: Menggunakan gelombang ultrasonik untuk memecah lensa yang keruh sebelum diangkat.
  • Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular (ECCE): Pengangkatan lensa keruh melalui sayatan yang lebih besar pada mata.
  • Implan Lensa Buatan: Mengganti lensa asli yang telah diangkat dengan lensa intraokular (IOL) agar penglihatan kembali optimal.

Kalau semua dokter umum melakukan pemeriksaan funduskopi, kelainan mata akan makin banyak terlihat. Begitu pula jika semua dokter endokrin melakukan funduskopi, retinopati diabetik akan makin banyak terdeteksi secara dini,

tegas Wamenkes Dante menekankan pentingnya pemeriksaan medis dasar.

Sinergi Pemerintah dan Tantangan Kebutaan Nasional

Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) mencatat bahwa kasus gangguan penglihatan di Indonesia semakin kompleks seiring bergesernya pola hidup masyarakat. Selain katarak, penyakit mata seperti kelainan refraksi, retinopati diabetik, degenerasi makula terkait usia, serta glaukoma turut menjadi beban kesehatan nasional.

Baca juga:

Kemensos Gelar Bakti Sosial, Bantuan Berupa Operasi Katarak Hingga Khitan Gratis

Guna mengatasi tantangan ini, Kemenkes bersama Perdami memperkuat keterjangkauan dokter spesialis hingga ke daerah terpencil serta mendorong kemudahan akses layanan operasi bagi peserta BPJS Kesehatan.

Tentu katarak menjadi penyebab kebutaan tertinggi di dunia, dan bahkan Indonesia sudah mulai merangkak masuk ke level kedua kebutaan di dunia. Ini betul-betul harus kita antisipasi dengan baik,

tandas Ketua Pengurus Pusat Perdami, Prof. Budu.

Melalui edukasi pola hidup sehat, perlindungan mata dari sinar UV, serta pemeriksaan rutin ke dokter spesialis mata, masyarakat diharapkan dapat terhindar dari risiko kebutaan permanen akibat katarak. (Fania/Magang)

Sumber: Kemenkes

Fania