Sejarah Tulisan Braille, Fondasi Literasi Bagi Disabilitas Netra di Dunia
Braille adalah sel berisi enam titik yang dapat dibaca dengan sentuhan ujung jari, memudahkan penyandang netra dalam mengakses informasi tertulis.
KamiBijak.com, Berita - Louis Braille dikenal sebagai seorang visioner di balik lahirnya sistem tulisan Braille, yaitu sebuah metode baca-tulis yang hingga kini menjadi fondasi literasi bagi penyandang disabilitas netra di seluruh dunia.
Lahir di Coupvray, Prancis, pada 4 Januari 1809, Braille telah kehilangan penglihatannya sejak usia tiga tahun akibat kecelakaan di bengkel ayahnya. Siapa sangka, keterbatasan itu justru menjadi awal dari kontribusi besarnya bagi kemanusiaan.
Saat sedang menempuh pendidikan di Royal Institute for Blind Youth, ia mulai mengembangkan sistem titik timbul yang kemudian dikenal luas sebagai Braille.
Sistem ini secara lebih rinci menggunakan sel berisi enam titik yang dapat dibaca dengan sentuhan ujung jari, sehingga memudahkan penyandang tunanetra dalam mengakses informasi tertulis.
Braille dapat diraba dengan ujung jari. (foto: Canva)
Pada usia 15 tahun, Braille kemudian mulai mengembangkan sistem enam titik timbul yang dapat diraba dengan ujung jari, ia mengaku terinspirasi dari sistem sandi militer Prancis.
Sistem Braille sendiri memungkinkan huruf, angka, tanda baca, bahkan notasi musik direpresentasikan secara ringkas dan konsisten.
Meski awalnya sempat mendapat penolakan dari kalangan pendidik, namun metode ini perlahan diakui karena terbukti jauh lebih efisien.
Setelah Braille wafat pada 1852, sistem ciptaannya mulai diadopsi secara luas dan akhirnya diakui secara internasional.
Hingga hari ini, Braille tetap dianggap relevan di tengah perkembangan teknologi digital.
Braille saat ini hadir dalam bentuk buku cetak, papan elektronik Braille, hingga perangkat lunak pembaca layar yang mendukung kemandirian penyandang disabilitas netra dalam pendidikan, pekerjaan, dan akses informasi. (Irene)
Sumber: rri.co.id
Video Terbaru
MOST VIEWED
