KamiBijak.com, Hiburan - Kisah inspiratif datang dari Athaya Putri Nirwasita (20 Tahun) yang menyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang mengukir prestasi gemilang. Berbeda dengan remaja pada umumnya, ia memiliki kemampuan melukis yang luar biasa. Dibalik kondisi yang dialaminya, hal ini menjadi pemicu baginya untuk menorehkan prestasi yang membanggakan, khususnya di dunia seni lukis.
Di usianya yang masih belia, Athaya sudah dikenal sebagai pelukis yang karyanya “ngalam mbois”, berasal dari istilah lokal yang berarti “Malang Keren”. Kota Malang yang merupakan tempat tinggalnya, menjadi saksi bagaimana Athaya energi dan fokusnya yang luar biasa ke atas kanvas.
Gejala ADHD Athaya mulai muncul sejak ia berusia dua tahun. Alih-alih sang ibu, Isa Maisah menyerah, Isa memilih untuk membawa Athaya ke berbagai terapis, psikolog, psikiater, hingga dokter spesialis anak demi mendukung tumbuh kembangnya.
Perjuangan tersebut berbuah manis. Isa berhasil menyalurkan energi dan fokus putrinya melalui kegiatan seni. Jika kebanyakan pelukis mengandalkan kuas mahal, Athaya justru memanfaatkan barang-barang yang mudah ditemukan di rumah, terutama alat-alat dapur seperti spatula, centong sayur, hingga pisau kue untuk menghasilkan tekstur dan garis yang berbeda dalam lukisannya.
Athaya bahkan mampu menjelaskan filosofi di balik setiap goresan. Banyak lukisannya bercerita tentang masa kecil dan kenangan bersama keluarga. Lukisan pertamanya menggambarkan suasana keluarga di kebun, penuh warna cerah dan kehangatan
Karya-karya Athaya yang dihasilkan dengan teknik unik. Ini ternyata mendapat banyak pujian. Tidak hanya melukis untuk mengisi waktu luang, tetapi juga berpartisipasi dalam berbagai pameran bergengsi. Lukisannya, yang kaya warna dan tekstur selalu berhasil menarik perhatian para pecinta seni.
Tak berhenti di dunia lukis, Athaya juga mencoba dunia fashion. Ia menggabungkan dua passion-nya dengan cara menerapkan lukisan abstraknya ke dalam desain busana dan aksesori seperti tas, sepatu, bucket hat, scarf, serta perhiasan dan gantungan kunci. Athaya juga pernah tampil di Malang Fashion Week dan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025.
Kisah Athaya memberikan pesan yang sangat kuat. Jangan pernah membatasi potensi seseorang berdasarkan diagnosis atau cara yang Normal. Athaya menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari keterbatasan. Bahkan alat dari dapur pun bisa menjadi instrumen untuk menciptakan karya seni yang bernilai tinggi.
Athaya, remaja berbakat dari Malang, adalah bukti nyata bahwa dengan semangat dan kreativitas tanpa batas, prestasi hebat bisa diukir, bahkan dengan sentuhan centong sayur. (Keisha/MG)
Sumber : BeritaSatu
