Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus, Jangan Lupa Peduli pada Diri Sendiri
Orangtua ABK perlu menjaga kesehatan mental dan fisik agar tetap kuat mendampingi anak.
KamiBijak.com, Berita - Menjadi orang tua bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah sebuah panggilan jiwa, sebuah maraton panjang yang menuntut pengorbanan, kesabaran, dan cinta yang tak terukur. Dalam proses perjuangan yang seringkali sunyi ini, perhatian utama orang tua selalu tertuju pada kebutuhan terapi, pendidikan, dan kesejahteraan sang anak. Akibatnya, satu hal krusial sering terlupakan atau sengaja dikesampingkan yaitu kesehatan diri sendiri. Para ahli dan psikolog sering mengingatkan bahwa self-care atau merawat diri bukanlah kemewahan, melainkan fondasi vital yang harus dijaga agar peran pengasuhan dapat berlangsung efektif dan berkelanjutan. Simak penjelasannya dibawah ini
1. Merawat diri sendiri dukung orang tua sabar dan tanggap rawat ABK
Melakukan perawatan diri secara rutin membantu orangtua tetap sabar, responsif, dan penuh kasih. Hal ini tidak hanya berfokus pada kesehatan anak, tetapi juga berperan dalam menciptakan suasana rumah yang lebih stabil dan positif bagi seluruh keluarga.
Selain itu menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan juga sangat penting. Bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman menjadi hal utama. Ketika orangtua saling mendukung dan berbagi tanggung jawab, anak akan lebih mudah menyesuaikan diri.
Para ahli menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak. Tanpa pendekatan yang konsisten, anak dengan kebutuhan khusus bisa menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dan mengembangkan diri.
2. Orang tua perlu memperhatikan kebutuhan pendidikan anak
(foto : Halodoc)
Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bukan hanya soal tempat belajar, tetapi mencakup berbagai layanan di dalam dan luar sekolah. Layanan ini biasanya berupa kelas kecil dengan guru terlatih dan lingkungan terstruktur untuk menumbuhkan kepercayaan diri serta mendorong interaksi dengan teman sebaya.
Program pendidikan khusus tidak hanya untuk anak dengan keterbatasan fisik atau perkembangan tertentu, tetapi juga bagi yang memiliki gangguan emosional atau mental. Beberapa anak mungkin mengikuti program ini penuh waktu, sementara yang lain hanya sebagian. Yang terpenting, orangtua perlu memahami layanan yang tersedia dan memperjuangkan dukungan yang sesuai bagi anak mereka.
3. Jaga kesehatan mental anak
Berbeda dari anak pada umumnya, anak berkebutuhan khusus lebih rentan mengalami depresi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi orangtua untuk mampu mengenali tanda-tandanya sejak dini.
Penelitian menunjukkan bahwa banyak orangtua merasa yakin dapat mendeteksi depresi pada anak, padahal sering kali anak tidak terbuka mengenai perasaannya. Banyak dari mereka enggan berbagi karena tidak ingin membuat orangtua khawatir.
Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman. Lingkungan yang tenang dapat membantu anak mengurangi tekanan, mengekspresikan diri melalui kegiatan seperti menggambar atau hobi lainnya, serta membangun hubungan dengan orang yang mereka percayai demi menjaga kesehatan mentalnya (Keisha/MG)
Sumber : Liputan 6
Video Terbaru
MOST VIEWED
