Berita

Metode Baru! Begini Cara Teman Tuli Bisa Pelajari dan Pahami Al-Quran Lewat Isyarat

Teman Tuli kini bisa belajar Al-Quran dengan metode isyarat yang disahkan Kemenag!

KamiBijak.com, Berita - Mempelajari Al-Quran bagi teman Tuli kini semakin mudah berkat hadirnya dua metode utama yang dikembangkan khusus untuk mereka, yaitu Kitabah dan Tilawah. Kedua metode ini menjadi terobosan penting dalam upaya meningkatkan literasi Al-Quran bagi penyandang disabilitas rungu.

 

Mushaf Al-Quran Isyarat Metode Kitabah. (Foto : Dok.Kemenag RI)

 

Menurut Muhammad Mundzir, pengajar dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ), metode Kitabah digunakan untuk mengisyaratkan apa yang tertulis dalam mushaf, sedangkan metode Tilawah digunakan untuk mengisyaratkan apa yang diucapkan atau dilafalkan.
“Dua metode ini membantu guru memetakan kemampuan murid Tuli. Meski tak mudah dikuasai bersamaan, keduanya perlu diperkenalkan agar proses belajar lebih inklusif,” ujar Mundzir.

Mundzir menegaskan pentingnya pelatihan guru dalam memahami Al-Quran isyarat. Ia berharap lebih banyak pendidik yang mampu mengajarkan Al-Quran kepada teman Tuli dengan pendekatan yang sesuai.

“Pelatihan ini membuat teman-teman Tuli tidak hanya menjadi objek, tapi juga subjek dalam pembelajaran Al-Quran,” tambahnya dalam pelatihan bersama Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) di Jakarta, 27 September 2025.

Meski konsep membaca Al-Quran isyarat masih belum sepopuler Al-Quran braille untuk penyandang disabilitas netra, perkembangan positif mulai terlihat. Sejak 2023, Kementerian Agama dan LPMQ telah meluncurkan mushaf Al-Quran isyarat pertama di Indonesia. Kehadiran mushaf ini menjadi tonggak penting, meski masih memerlukan dukungan tenaga pendidik yang paham pedoman penggunaannya.

Anik Khorida, guru di SLB BC Alfiany Cengkareng Barat, mengaku pelatihan ini mengubah cara mengajarnya.

“Sebelum 2020, saya hanya mengenalkan huruf hijaiyah lewat gambar. Sekarang sudah ada pedoman resmi dari Kemenag, jadi lebih yakin dan terarah dalam mengajar,” ujarnya.

Mushaf Al-Quran Isyarat. (Foto : Dok. Kemenag RI)

 

Ia juga menyebut pelatihan tersebut sebagai solusi nyata bagi guru-guru SLB. “Dulu saya bingung bagaimana menjelaskan Al-Quran kepada anak Tuli. Sekarang mereka bisa memahami maknanya lewat isyarat,” katanya kepada laman Dompet Dhuafa.

Hal senada disampaikan Marno, guru SLB Bina Insani, Depok. Ia menilai pelatihan Al-Quran isyarat melengkapi metode pengajaran yang ada. “Dengan pelatihan ini, cara belajar teman Tuli semakin berkembang,” ujarnya.

Marno menambahkan, pemahaman terhadap Al-Quran isyarat membuka peluang besar bagi teman Tuli untuk menjadi guru bagi sesama. “Kalau satu anak Tuli bisa mengaji dengan isyarat, teman lainnya akan termotivasi. Mereka bisa saling mengajar dan belajar,” tuturnya.

Upaya ini menjadi bukti bahwa setiap muslim, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan akses untuk memahami dan mengamalkan Al-Quran. Melalui Al-Quran isyarat, teman Tuli kini punya jalan baru untuk mendekatkan diri pada kitab suci dan mendapatkan manfaat spiritual dari setiap ayatnya. (Restu)

 

Sumber : Liputan6