Fenomena Kencan “Shrekking”: Strategi Palsu Biar Nggak Tersakiti yang Justru Bikin Patah Hati
Tren kencan “Shrekking” lagi viral di TikTok. Kenali artinya dan cara menghadapinya agar tidak berakhir patah hati.
KamiBijak.com, Hiburan - Di dunia kencan modern, istilah baru terus bermunculan. Kali ini giliran “Shrekking”, terinspirasi dari karakter ogre hijau populer, Shrek. Sayangnya, istilah ini bukan pujian. Shrekking berarti sengaja berkencan dengan seseorang yang dianggap “di bawah standar”, dengan asumsi karena kita merasa berada di “liga” lebih tinggi, kita akan aman dari rasa sakit hati.
Ironisnya, banyak yang justru mengalami kebalikannya, ditolak atau dikecewakan oleh orang yang awalnya mereka anggap “lebih rendah”. Istilah “di-Shrekked” pun lahir untuk menggambarkan situasi ketika strategi ini berbalik arah dan melukai hati sendiri.
Fenomena ini mirip dengan konsep “hypergamy” alias “dating up”, yang menilai nilai seseorang berdasarkan penampilan, status, atau penghasilan. Dengan “Shrekking”, kita secara tidak sadar menggolongkan orang dalam hierarki kencan, menganggap ada yang “lebih tinggi” dan “lebih rendah”.
Cara pandang ini jelas mereduksi kompleksitas hubungan manusia. Koneksi mendalam seharusnya lahir dari ketertarikan tulus, bukan perhitungan siapa yang lebih “berharga”. Saat kita membiarkan standar superfisial menguasai, hubungan jadi sekadar permainan ego dan kekuasaan.
Banyak yang mengaku melakukan “Shrekking” karena ingin keluar dari zona nyaman atau mencoba menghindari risiko patah hati. Terutama perempuan yang kerap mendapat tekanan standar kecantikan dan diminta menurunkan ekspektasi. Mereka mungkin memberi kesempatan pada orang di luar “tipe” dengan harapan hubungan terasa lebih aman.
Namun, bila sejak awal tak ada ketertarikan, tujuan “aman” ini bisa jadi bumerang. Kita bisa terjebak dalam hubungan yang hambar, bahkan menyakiti kedua pihak. Dan ketika akhirnya disakiti oleh orang yang kita anggap “lebih rendah”, rasa frustasinya justru berlipat ganda.
(Foto : Dok Pexels)
Jika kamu pernah mengalami ini, penting untuk menyadari masalahnya bukan pada “si dia”, tapi pada mekanisme pertahanan diri yang mendorong kita berkencan demi menghindari luka.
Luangkan waktu untuk refleksi: apa yang sebenarnya kamu cari dalam hubungan? Pertimbangkan untuk istirahat dari dunia kencan, atau berbicara dengan terapis agar bisa menyembuhkan luka lama.
Frustasi dalam percintaan wajar, tetapi memakai strategi seperti “Shrekking” hanya memperpanjang siklus sakit hati. Sebelum tanpa sadar jadi “ogre” dalam pola pikir, lebih baik berhenti sejenak dan fokus membangun hubungan yang tulus dan sehat. (Restu)
Sumber : Cosmopolitan Indonesia
Video Terbaru
MOST VIEWED
