Berita

Manggarai Timur Beri Perhatian Khusus pada Penyintas Disabilitas Psikososial di Akhir Tahun

Penyintas disabilitas psikososial di Manggarai Timur menerima kado simbolik dan dukungan sosial menjelang tahun baru.

KamiBijak.com, Berita - Menjelang perayaan akhir tahun, perhatian terhadap kelompok rentan di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur semakin meningkat, khususnya bagi penyintas disabilitas psikososial. Dalam sebuah kegiatan sosial yang digelar di wilayah itu, sejumlah individu dengan disabilitas psikososial menerima kado simbolis sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan atas perjuangan mereka selama ini. Kegiatan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai potensi dan hak penyintas disabilitas psikososial dalam kehidupan bermasyarakat.

Disabilitas psikososial sendiri merupakan kondisi kesehatan mental yang mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berinteraksi dengan orang lain. Orang yang hidup dengan disabilitas psikososial seringkali menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan fungsi psikologis, tetapi juga hambatan sosial serta stigma dalam komunitas mereka. Meskipun tidak selalu tampak secara fisik, kondisi ini tetap membutuhkan perhatian khusus, dukungan sosial, serta akses terhadap layanan kesehatan mental yang tepat.

 

Perhatian terhadap penyintas disabilitas psikososial di Manggarai Timur dilakukan oleh berbagai pihak yang peduli dengan inklusi sosial dan kesejahteraan masyarakat. Beberapa komunitas lokal, relawan, dan organisasi masyarakat bekerja sama untuk memastikan bahwa para penyintas ini tidak hanya diingat pada momen tertentu, tetapi mendapatkan dukungan berkelanjutan. Penyerahan kado yang dilakukan ini menjadi simbol bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan memiliki hak yang sama untuk dihargai dan diterima.

Kegiatan sosial ini tidak hanya berfokus pada pemberian kado secara fisik, tetapi juga mendorong terjadinya dialog yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan inklusif bagi penyandang disabilitas psikososial. Partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat menunjukkan perubahan paradigma dari sekadar perhatian soliter menjadi bentuk dukungan holistik yang mencakup pemahaman, dukungan emosional, serta kerja sama lintas sektor.

Pesan utama yang disampaikan oleh para penyelenggara adalah bahwa dukungan bagi penyintas tidak boleh berhenti pada momen tertentu saja. Perhatian terhadap hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas psikososial harus terintegrasi dengan kebijakan lokal dan program sosial yang berkelanjutan. Hal ini meliputi akses pendidikan, layanan kesehatan mental, ruang kerja inklusif, serta kesempatan bermasyarakat tanpa diskriminasi. Komunitas di Manggarai Timur berharap contoh ini dapat menginspirasi daerah lain untuk memperluas praktik inklusi sosial secara nyata.

Kegiatan pemberian kado juga menjadi kesempatan bagi keluarga, sahabat, serta tetangga untuk mempererat tali persaudaraan dengan penyintas disabilitas psikososial. Interaksi sosial yang dibangun ini dapat membantu mengikis stigma yang masih melekat dan memberi ruang bagi penerimaan serta penghormatan terhadap keberagaman kondisi kesehatan mental di lingkungan masyarakat. Dukungan semacam ini, meskipun terlihat sederhana, tapi bisa memiliki dampak yang besar dalam membangun kepercayaan diri serta semangat hidup bagi penyintas tersebut.

Penyelenggara berharap bahwa momentum ini akan membawa dampak jangka panjang, terutama dalam memperkuat sistem dukungan komunitas, memperluas jaringan layanan bantuan, serta merangsang pemikiran yang lebih progresif tentang kesehatan mental dan inklusi sosial di seluruh Manggarai Timur. Dengan begitu, penyintas disabilitas psikososial tidak hanya mendapatkan perhatian sesaat, tetapi juga dapat memberikan peluang yang lebih besar untuk berkembang, berkarya, dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial. Langkah kecil ini diharapkan dapat menjadi awal bagi perubahan besar dalam membangun masyarakat yang lebih peduli, inklusif, dan menghargai kesehatan mental secara berkelanjutan. (Sindi/PKL)

Sumber : Kompas