Lucky Girl Syndrome vs WOOP Strategy: Optimisme atau Ilusi Positif?
Fenomena Lucky Girl Syndrome bikin percaya diri, tapi rawan jadi jebakan positif palsu.
KamiBijak.com, Hiburan - Belakangan, media sosial ramai membicarakan fenomena Lucky Girl Syndrome. Banyak perempuan muda mulai melafalkan afirmasi positif seperti, “aku selalu beruntung” atau “semua akan berjalan lancar.” Konsep ini berangkat dari keyakinan bahwa jika kita terus mengulang sugesti positif, alam semesta akan mewujudkan keinginan tersebut.
Afirmasi ini bisa diterapkan di banyak aspek hidup: karier, pendidikan, hubungan asmara, keluarga, hingga tujuan pribadi. Polanya mirip dengan manifestation, yakni membayangkan serta meyakini sesuatu hingga benar-benar terwujud. Tapi, benarkah metode ini murni bekerja, atau sekadar optimisme berlebihan yang bisa berujung pada toxic positivity?
Mengulang kalimat positif sebenarnya memberi efek nyata. Ia membantu mengubah “lensa” dalam memandang hidup. Saat pikiran dipenuhi optimisme, tindakan kita cenderung lebih produktif. Rasa percaya diri meningkat, keberanian mengambil peluang bertambah, dan hal ini dapat memperbesar peluang sukses.
Lebih dari itu, pikiran positif membuat hati lebih tenang sekaligus mendorong kita bertindak lebih aktif. Keyakinan bahwa usaha tak akan sia-sia bisa menjadi energi penggerak yang luar biasa.
Namun, Lucky Girl Syndrome bukan tanpa sisi gelap. Keyakinan bahwa semua akan selalu berjalan mulus dapat membuat kita lupa bahwa hidup tak selalu adil. Faktanya, setiap orang memiliki akses, kesempatan, dan tantangan berbeda.
Jika dipaksa terus berpikir positif, seseorang bisa menekan emosi negatif seperti marah, sedih, atau kecewa, padahal semua itu wajar dan sehat untuk dirasakan. Lebih parah lagi, ketika afirmasi tak menghasilkan kenyataan, individu bisa merasa gagal atau menyalahkan diri sendiri. Padahal, faktor eksternal seperti ekonomi, lingkungan, atau kondisi sosial juga sangat memengaruhi.
Alih-alih hanya mengandalkan afirmasi, ada metode lain yang lebih aplikatif: WOOP Strategy. Dikembangkan oleh psikolog Gabriele Oettingen, WOOP adalah singkatan dari Wish, Outcome, Obstacle, Plan.
- Wish: berani bermimpi besar.
- Outcome: membayangkan hasil terbaik yang ingin dicapai.
- Obstacle: mengenali hambatan nyata, misalnya rasa malas, waktu terbatas, atau kendala finansial.
- Plan: menyusun strategi konkret untuk mengatasi hambatan tersebut.
Pendekatan ini menggabungkan optimisme dengan perencanaan strategis. Hasilnya, kita tetap termotivasi mengejar mimpi, tapi tidak larut dalam euforia semu. WOOP dianggap lebih praktis sekaligus memiliki landasan ilmiah dibanding sekadar afirmasi positif ala Lucky Girl Syndrome.
Lucky Girl Syndrome bisa bermanfaat sebagai penyemangat, terutama untuk meningkatkan rasa percaya diri. Namun, jika dipahami secara keliru, ia bisa menjadi jebakan optimisme palsu yang menutup mata dari realitas.
Kalau kamu ingin mencobanya, sah-sah saja. Tapi, kombinasikan dengan strategi realistis seperti WOOP agar afirmasi positifmu diiringi langkah nyata. Dengan begitu, hidup bisa lebih seimbang: tetap optimis, tapi juga siap menghadapi kenyataan. (Restu)
Sumber : Fimela
Video Terbaru
MOST VIEWED
