Lentera Harapan, Harmonisasi Budaya dan Bahasa di Panggung Teater Inklusif
Perpaduan budaya Betawi Cina dan kolaborasi Tuli dengar dalam teater inklusif Lentera Harapan.
KamiBijak.com, Hiburan - Pentas teater Lentera Harapan bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang pertemuan bagi dua dunia yang berbeda yaitu komunitas Tuli sebagai pengguna bahasa isyarat dan komunitas dengar sebagai pengguna bahasa verbal. Dalam proses pembuatannya, tim kreatif menghadapi tantangan besar sekaligus menemukan kekuatan baru yang memperkaya karya ini.
1. Tantangan Utama: Language Barrier
Proses latihan Lentera Harapan tidak terlepas dari kendala komunikasi. Perbedaan bahasa antara pemain Tuli dan pemain dengar menjadi tantangan terbesar yang harus ditangani sejak awal. Salah satu anggota tim yang menguasai kedua bahasa, baik verbal maupun isyarat mengambil peran penting sebagai jembatan komunikasi.
Ia menyampaikan bahwa tantangan pertama adalah memastikan pesan dari pemain dengar dapat diterjemahkan secara tepat ke bahasa isyarat, dan sebaliknya. Bukan hanya kata, tetapi juga konteks, arahan artistik, dan nuansa emosi yang harus tersampaikan secara utuh. Tantangan kedua adalah bagaimana anak-anak Tuli menyerap materi yang diberikan. Proses adaptasi ini membutuhkan kesabaran, ketelitian, serta waktu yang tidak sedikit.
