Hiburan

Lentera Harapan, Harmonisasi Budaya dan Bahasa di Panggung Teater Inklusif

Perpaduan budaya Betawi Cina dan kolaborasi Tuli dengar dalam teater inklusif Lentera Harapan.

KamiBijak.com, Hiburan - Pentas teater Lentera Harapan bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang pertemuan bagi dua dunia yang berbeda yaitu komunitas Tuli sebagai pengguna bahasa isyarat dan komunitas dengar sebagai pengguna bahasa verbal. Dalam proses pembuatannya, tim kreatif menghadapi tantangan besar sekaligus menemukan kekuatan baru yang memperkaya karya ini.

1. Tantangan Utama: Language Barrier

Proses latihan Lentera Harapan tidak terlepas dari kendala komunikasi. Perbedaan bahasa antara pemain Tuli dan pemain dengar menjadi tantangan terbesar yang harus ditangani sejak awal. Salah satu anggota tim yang menguasai kedua bahasa, baik verbal maupun isyarat mengambil peran penting sebagai jembatan komunikasi.

Ia menyampaikan bahwa tantangan pertama adalah memastikan pesan dari pemain dengar dapat diterjemahkan secara tepat ke bahasa isyarat, dan sebaliknya. Bukan hanya kata, tetapi juga konteks, arahan artistik, dan nuansa emosi yang harus tersampaikan secara utuh. Tantangan kedua adalah bagaimana anak-anak Tuli menyerap materi yang diberikan. Proses adaptasi ini membutuhkan kesabaran, ketelitian, serta waktu yang tidak sedikit.

(foto : dok. Kamibijak)

Namun di luar tantangan komunikasi, kemampuan para pemain Tuli di bidang teater justru menjadi kejutan yang menyenangkan. Mereka dinilai sangat cerdas dalam ekspresi, gestur, dan olah tubuh. Kepekaan mereka dalam menyampaikan emosi membuat proses latihan tetap mengalir alami dan penuh energi positif.

 

2. Inspirasi Dua Budaya: Betawi dan Cina

Cerita Lentera Harapan ditulis oleh Robert Gunadia pendiri Mantuli, yang tergerak untuk menggabungkan dua budaya yang dekat secara sosial maupun geografis, yaitu budaya Betawi dan budaya Cina. Menurut Robert, penggabungan dua latar budaya yang berbeda ini bukan hanya seru, tetapi juga memberi ruang kreatif baru untuk menghadirkan cerita yang kaya warna.

Gagasan ini kemudian berkembang menjadi inspirasi utama cerita yang menghadirkan interaksi dua budaya dalam sebuah panggung yang inklusif, tepat dengan semangat Mantuli sebagai wadah yang menyatukan keberagaman.

 

3. Pesan Moral: Jangan Rasis, Jadilah Lebih Terbuka

Di balik kemeriahan panggung, Lentera Harapan membawa pesan moral yang kuat. Pertunjukan ini mengajak penonton untuk tidak membeda-bedakan budaya dan menolak segala bentuk rasisme. Penonton diajak untuk lebih open minded, membuka diri terhadap perbedaan, dan menerima siapapun di sekitar mereka.

Pesan ini disampaikan dengan lembut namun tegas: kita tidak pernah tahu siapa yang suatu hari akan menjadi teman, sahabat, atau bahkan bagian penting dari hidup kita. Karena itu, menerima keragaman dan membangun sikap inklusif menjadi nilai utama yang ingin ditanamkan melalui pementasan ini (Keisha/MG).

Sumber : Wawancara