Lansia dan Disabilitas Kesulitan Akses Halte, Koridor 13 TransJakarta Masih Tanpa Lift
Koridor 13 TransJakarta efisien dan bebas macet, namun ketiadaan lift dan eskalator membuat lansia dan disabilitas kesulitan mengakses halte.
KamiBijak.com, Berita - Koridor 13 TransJakarta dikenal sebagai satu-satunya jalur bus rapid transit yang seluruh lintasannya berada di jalan layang, menghubungkan Ciledug hingga Tendean. Jalur ini kerap dipuji karena mampu memangkas waktu tempuh dan bebas dari kemacetan. Namun, di balik efisiensi tersebut, tersimpan persoalan serius: sejumlah halte belum dilengkapi lift atau eskalator, sehingga akses menuju peron menjadi tantangan berat, terutama bagi lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Tarso (61), warga Kemang yang rutin menggunakan Koridor 13 untuk berdagang ke Pasar Mayestik, mengaku setiap perjalanan terasa melelahkan. Tangga yang tinggi dan panjang tanpa jeda membuatnya harus berhenti berkali-kali untuk mengatur napas. Kondisi semakin berat saat cuaca panas atau hujan, karena permukaan tangga bisa licin dan menguras tenaga. Menurut Tarso, tidak sedikit lansia yang akhirnya memilih membatalkan perjalanan karena tidak sanggup menaiki tangga halte.
Tangga Koridor 13 (foto : Kompas)
Keluhan serupa disampaikan Sulastri (68), pengguna Halte Pasar Santa. Meski akses halte tersebut berupa ramp dan jembatan penyeberangan, jaraknya dinilai terlalu panjang dan menanjak. Ia harus sering berhenti karena kaki gemetar dan napas cepat habis. Situasi menjadi makin menekan ketika halte ramai, karena penumpang lansia merasa terburu-buru agar tidak menghambat orang lain.
Penelusuran di empat halte Koridor 13, Rawa Barat, Pasar Santa, Mayestik, dan JORR menunjukkan tantangan fisik yang nyata. Halte Rawa Barat memiliki lebih dari 100 anak tangga dan membutuhkan waktu sekitar tujuh menit untuk mencapai peron. Halte Pasar Santa mengandalkan JPO panjang berkelok yang memakan waktu hingga delapan menit berjalan. Di Halte Mayestik, penumpang harus menaiki sekitar 70 anak tangga, sementara Halte JORR menjadi yang terberat dengan total 103 anak tangga dan waktu tempuh sekitar 10 menit.
Dampak ini tidak hanya dirasakan lansia. Pelajar dan pekerja juga mengeluhkan kelelahan akibat akses halte yang panjang dan menanjak. Banyak yang harus berhenti sejenak untuk mengatur napas, bahkan mempertimbangkan moda transportasi lain meski biayanya lebih mahal.
Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai keberadaan lift dan eskalator memang belum diwajibkan dalam Standar Pelayanan Minimal, namun pendekatan inklusif tetap penting. Ia menyarankan solusi jangka pendek seperti penambahan petugas Transcare dan penerapan SOP yang lebih ramah bagi penumpang prioritas. Menurutnya, pengalaman pengguna Koridor 13 menjadi pengingat bahwa infrastruktur transportasi publik perlu aman, nyaman, dan dapat diakses oleh semua kalangan. (Keisha/MG)
Sumber : Kompas
Video Terbaru
MOST VIEWED
