KamiBijak.com, Berita - Perkembangan anak usia di bawah lima tahun (balita) sering menjadi perhatian utama bagi para orang tua. Umumnya, setiap orang tua berharap proses tumbuh kembang anak berjalan lancar tanpa hambatan.
Namun demikian, dokter spesialis anak RS Al Islam Bandung, Dr. Lia Marlia, Sp.A, menyebutkan bahwa sebagian orang tua mengeluhkan adanya keterlambatan perkembangan pada anak, terutama dalam aspek motorik, seperti belum mampu mengangkat kepala, berguling, duduk, berdiri, atau berjalan ketika anak seusianya sudah mampu melakukannya.
"Hal ini biasanya akan mendorong para orangtua untuk membawa anaknya ke dokter. Biasanya mereka akan dibawa ke klinik anak atau ke klinik tumbuh kembang," terang Lia di laman RS Al Islam Bandung, ditulis Selasa (7/4/2026).
Lia menjelaskan bahwa di klinik tumbuh kembang, umumnya dilakukan wawancara menyeluruh dengan orang tua yang mencakup riwayat kehamilan dan persalinan. Selain itu, anak juga akan menjalani pemeriksaan fisik serta tes perkembangan. Jenis tes perkembangan yang dilakukan dokter biasanya mempertimbangkan beberapa aspek, seperti usia anak, keluhan utama, kemampuan dokter, serta ketersediaan alat pemeriksaan.
"Tes perkembangan yang sering dilakukan meliputi Denver II, BINS, Munchen, Griffith dan lain sebagainya. Selanjutnya dokter yang memeriksa akan menyampaikan hasilnya kepada orangtua tentang kondisi, dan sekaligus memberikan saran tentang penatalaksanaan selanjutnya," terang Lia.
Jenis Terapi sesuai Kebutuhan Anak
Lia menjelaskan bahwa apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya kelainan atau keterlambatan perkembangan, maka anak akan disarankan menjalani pemeriksaan tambahan seperti tes laboratorium atau penunjang lain untuk membantu menegakkan diagnosis.
Namun, terdapat juga anak dengan gangguan perkembangan yang tidak memerlukan pemeriksaan tambahan. Dalam kondisi tersebut, anak akan dianjurkan menjalani terapi sesuai kebutuhan yang terbagi dalam tiga tahap, yaitu:
- Fisioterapi
Terapi ini dilakukan untuk mengatasi keterlambatan, gangguan, maupun kelainan pada fungsi gerak tubuh.
"Latihan yang dilakukan biasanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar dan motorik halus, mengoreksi postur yang abnormal, koordinasi gerak yang buruk, meningkatkan keseimbangan dan koordinasi, mengurangi tubuh kaku dan kejang otot serta penguatan dan daya tahannya," sebut Lia.
- Terapi Wicara
Terapi ini bertujuan meningkatkan kemampuan berbicara serta memahami dan mengekspresikan bahasa. Selain bahasa verbal, terapi ini juga mencakup komunikasi nonverbal. Untuk memaksimalkan terapi, langkah awal yang dilakukan biasanya adalah meningkatkan koordinasi organ mulut agar mampu menghasilkan suara dan membentuk kata.
"Olah mulut ini juga penting agar anak mampu membuat kalimat, termasuk kemampuan dalam artikulasi, kelancaran dan pengaturan volume suara," ungkap Lia.
- Okupasi Terapi
Terapi ini bertujuan meningkatkan kemampuan fungsi individu, seperti pemahaman, perhatian, konsentrasi, koordinasi visuomotor, serta aktivitas sehari-hari.
Pada anak, terapi okupasi umumnya dikemas dalam bentuk aktivitas bermain seperti memanjat, melompat, bermain ayunan, menyusun balok, puzzle, meronce, mewarnai, dan kegiatan lainnya.
Sebagai upaya memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal, penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda keterlambatan sejak dini dan segera melakukan pemeriksaan ke tenaga medis. Dengan penanganan yang tepat melalui evaluasi dan terapi sesuai kebutuhan, anak memiliki peluang besar untuk mencapai perkembangan yang lebih baik sesuai tahap usianya.(Athar/Magang)
Sumber: Liputan 6
