Berita

Jangan Asal Bersyukur, Niat Baik Ini Justru Bisa Menyakiti Disabilitas

Membandingkan diri dengan penyandang disabilitas dan menjadikannya sebagai alasan untuk bersyukur dinilai keliru dan melukai martabat.

KamiBijak.com, Berita - Membandingkan diri dengan penyandang disabilitas dan menjadikannya sebagai alasan untuk bersyukur dinilai keliru dan melukai martabat. Cara pandang seperti ini justru memperkuat stigma serta menciptakan jarak sosial dalam pertemanan.

Pernyataan itu disampaikan secara langsung dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi di Pro 1 RRI Palembang, Sabtu 24 Januari 2026. Dalam dialog tersebut, Rizka Amalia dan Sonia Cahyani dari Rumah Disabilitas Palembang hadir sebagai narasumber.

Sonia menyebut ungkapan rasa syukur seharusnya lahir dari kesadaran pribadi, bukan karena dari membandingkan diri dengan keterbatasan orang lain. Ia menilai penyandang disabilitas bukan alat pembanding untuk menumbuhkan rasa syukur.

“Teman disabilitas ingin diperlakukan sebagai manusia utuh, bukan contoh kekurangan,” ujarnya. Ia tegas menolak pandangan bahwa disabilitas dijadikan alat pengingat agar orang lain merasa lebih beruntung.

Rizka menjelaskan sikap tersebut sering kali muncul dalam komentar maupun konten media sosial. Ia menyebut praktik tersebut sebagai inspiration porn yang justru merendahkan harga diri disabilitas.

“Banyak yang mengira niatnya baik, tapi justru menyakitkan,” katanya. Ia kembali menegaskan penyandang disabilitas tidak butuh dikasihani, tapi dihargai dan dilibatkan.

Sonia menambahkan, perlakuan setara dalam pertemanan berarti bisa berinteraksi secara wajar. Ia mengingatkan agar bantuan untuk mereka hanya diberikan saat diminta dan tidak menjadikan kondisi disabilitas sebagai bahan lelucon.

Keduanya menekankan tentang inklusi sejati harus dimulai dari perubahan pola pikir. Lingkungan yang aman, nyaman, dan saling menghargai sangat penting untuk membangun kepercayaan diri disabilitas. (Irene)

Sumber: rri.co.id