Berita

Inspiratif! Perjuangan Mahasiswi Tuli Salsabilla Rasika Masuk FSRD ITB dan Lulus dengan Gemilang

Perjuangan Shika, mahasiswi Tuli ITB, buktikan tekad dan kolaborasi mampu taklukkan batas.

KamiBijak.com, Berita - Pertanyaan "Tuli Masuk ITB, Apa Bisa?" terjawab jelas dalam sebuah webinar inspiratif yang diselenggarakan ITB melalui Zoom, dengan menghadirkan narasumber,  Salsabilla Rasika atau yang lebih akrab dipanggil Shika, alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang merupakan teman Tuli sejak lahir. Shika membagikan perjalanan perjuangan yang penuh liku, mulai dari proses pendaftaran hingga tantangan yang dihadapi selama masa perkuliahan.

 

1. Perjuangan Menembus FSRD ITB

Rasika, yang akrab disapa Shika, bercerita bahwa ia memilih jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) pada tahun 2018. Ia menyadari bahwa jalur SNMPTN (nilai rapor) sulit ditembus mengingat aktivitasnya di SMA yang lebih banyak bermain ketimbang belajar, sehingga nilai rapornya kurang optimal.

 

Dengan waktu yang sangat mepet, hanya tiga bulan menjelang ujian, Shika memutuskan untuk belajar mati-matian. Ia fokus pada materi Sosial dan Humaniora (Soshum), belajar 3-4 jam sehari menggunakan buku paket, karena awalnya berencana masuk ke fakultas yang menerima lintas jurusan Soshum.

 

(foto : webinar)

 

Tantangan terberat datang saat ujian keterampilan menggambar untuk FSRD ITB, yang dikenal ketat. Dengan waktu hanya 1 jam 30 menit, Shika harus menggambar dengan sebaik mungkin. Beruntungnya, saat ujian, pengawas berinisiatif memberikan bantuan karena memahami kondisi Tuli-nya. Dua hari kemudian, ia melanjutkan tes gambar di Aula Barat ITB dengan tema yang menguji kreativitas. Penantian panjang berakhir manis pada Juli 2018, nama Salsabilla Rasika tercantum sebagai satu-satunya teman Tuli yang diterima di ITB pada saat itu.

 

2. Adaptasi dan Kolaborasi di Kampus

 

Perjuangan tidak berakhir di sana. Begitu menjadi mahasiswa, Shika menghadapi hambatan komunikasi yang signifikan. 

 

"Waktu saya kuliah itu tidak ada juru bahasa isyarat sama sekali*," ungkap Shika. Untuk mengatasi hal ini, ia sangat mengandalkan visual dan bantuan teman-teman dengar.

 

"Aku biasanya minta tolong ke teman-teman dengarku untuk menulis ulang apa yang dibicarakan dosen menggunakan laptop. Jadi, saya meminjam telinga teman kuliah saya," kenangnya.

 

Tantangan lain muncul dalam mata kuliah multimedia yang melibatkan audio dan video. Untuk tugas-tugas video yang menuntut komponen audio, Shika harus berkolaborasi dengan teman dengar. Ia pun memilih untuk lebih fokus pada ilustrasi (visual) dibanding aspek audio multimedia, membuktikan bahwa keterbatasan dapat disiasati dengan fokus pada kelebihan dan kolaborasi.

 

Shika menegaskan bahwa kurikulum dan penilaian, termasuk ujian menggambar, disamaratakan antara mahasiswa dengar, Tuli, atau disabilitas lainnya. Tidak ada perbedaan standar, membuktikan bahwa teman Tuli mampu bersaing di pendidikan umum. Ia pun mengakhiri kisahnya dengan harapan besar agar kedepannya ITB dan seluruh PTN di Indonesia dapat menyediakan akses juru bahasa isyarat yang memadai bagi teman-teman Tuli.

 

Kisah Shika ini adalah bukti nyata bahwa dengan tekad, kerja keras, dan dukungan, batasan disabilitas tidak akan menghalangi mimpi untuk menempuh pendidikan di kampus terbaik. (Keisha/MG)

 

Sumber : Webinar