KamiBijak.com, Berita – Upaya nyata dalam membangun lingkungan akademis yang ramah serta inklusif terus ditunjukkan oleh mahasiswa. Forum Mahasiswa Peduli Inklusi (FORMAPI) Universitas Brawijaya sukses menggelar kegiatan Kelas Belajar Bahasa Isyarat (KBBI) 2026 pada 3 hingga 4 Oktober 2026 bertempat di Auditorium Nuswantara, FISIP Universitas Brawijaya. Acara yang berlangsung selama dua hari ini memadukan materi kelas praktik bahasa isyarat dengan sosialisasi bertajuk “Ruang Setara: Bersama Membangun Kesadaran Disabilitas, Mencegah Kekerasan, dan Menjaga Kesehatan Mental”.
Rangkaian acara ini dirancang untuk memberikan pemahaman holistik mengenai pentingnya keberagaman dan rasa aman di lingkungan kampus. Pada sesi sosialisasi, hadir Ketua ULTKSP, Luh Ayu Tirtayani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang memaparkan pentingnya menciptakan iklim pendidikan yang aman, setara, serta peka terhadap kesehatan mental. Selain itu, kegiatan juga diisi oleh Tanazza Zalsabella Firsty, S.H., M.Kn., dan Dr. Dra. Alifiulahtin Utaminingsih, M.Si., sebagai perwakilan dari Dharma Wanita Persatuan (DWP). Kehadiran para tokoh ini menegaskan bahwa langkah pencegahan kekerasan serta penciptaan ruang inklusif merupakan tanggung jawab bersama seluruh civitas akademika.
Guna memberikan pemahaman langsung mengenai budaya dan etika berinteraksi dengan teman Tuli, KBBI 2026 menghadirkan dua pemateri Tuli, yaitu Jesslyn Alvina Limanto dan Abdul Hakim Sidik Lessy. Melalui sesi interaktif ini, para peserta diajarkan etika dasar komunikasi sehari-hari, mulai dari cara menyapa hingga membangun sikap saling menghargai. Hal ini membuktikan bahwa komunikasi inklusif tidak sekadar menguasai gerakan isyarat, tetapi juga menumbuhkan empati mendalam antar sesama.
Baca juga:
RSUD Dr Harjono Ponorogo Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat Dasar
Pelaksanaan kegiatan KBBI 2026 ini berangkat dari semangat untuk mengubah konsep inklusivitas menjadi aksi nyata yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari di area kampus.
Kami ingin bahasa isyarat tidak lagi terasa asing bagi mahasiswa. Lewat KBBI 2026, kami berharap peserta tidak hanya pulang membawa keterampilan baru, tetapi juga kepekaan untuk menciptakan ruang yang setara bagi teman-teman disabilitas,
ujar Ketua Pelaksana KBBI 2026, Rama Caesario.
Kerja keras panitia dalam menyiapkan acara ini berbuah manis setelah melihat antusiasme para peserta yang berani mencoba berinteraksi langsung menggunakan bahasa isyarat. Salah satu peserta, Athalla, mengaku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan ini.
Sebelumnya saya bingung harus bagaimana ketika bertemu teman Tuli. Setelah mengikuti KBBI, saya jadi tahu etika dasarnya dan tidak lagi canggung untuk memulai komunikasi. Kegiatan seperti ini sangat perlu diadakan lebih sering,
tutur Athalla.
Melalui penyelenggaraan KBBI 2026, FORMAPI Universitas Brawijaya berharap kesadaran akan kesetaraan hak disabilitas serta budaya inklusif dapat terus meluas dan diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi. (Fania/Magang)
Sumber: Prasetya UB
