KamiBijak.com, Hiburan - Sidney Mohede, seorang penyanyi, pencipta lagu rohani, dan seorang pendeta yang saat ini melayani di gereja Jakarta Praise Community Church (JPCC) membagikan kisahnya saat harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap penyakit meniere.
Sebagai seseorang yang sudah bergelut di bidang musik sejak tahun 1996, telinga atau pendengaran menjadi indera yang cukup penting dalam perjalanan karirnya. Oleh sebab itu, ketika mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit meniere, hidupnya sebagai musisi mengalami banyak perubahan drastis.
Bermula pada Desember 2016, Sidney mulai merasakan gejala tinnitus (telinga berdenging) tanpa jeda pada telinga kirinya. Selain itu, gejala lain yang ia rasakan adalah serangan vertigo yang parah secara mendadak sehingga membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak selama berjam-jam.
Setelah melakukan konsultasi dengan banyak dokter THT, ia resmi di diagnosis mengidap Meniere’s Disease & Sudden Hearing Loss Syndrome. Ia menjelaskan, semua gejala yang dialaminya tidak kelihatan oleh mata. Meski demikian, akibatnya telinga kirinya harus memakai sebuah alat bantu dengar.
Baca juga:
Penyakit Meniere: Gejala, Faktor Risiko, dan Dampaknya pada Pendengaran
“Dalam kasus saya, bagian sebelah kiri saya yang kena dampaknya, sehingga dalam beberapa tahun terakhir ini telinga kiri saya harus memakai sebuah alat bantu dengar. But here’s the thing. Semua gejala yang saya alami ini tidak kelihatan oleh mata. Dari luar saya kelihatan biasa-biasa saja, baik-baik saja,” ungkapnya.
Serangan Vertigo dan Telinga Berdenging Setiap Hari
Penyanyi kelahiran Jakarta, 27 Maret 1973 itu bahkan sempat memberikan ilustrasi secara nyata mengenai kondisi telinganya. Setiap hari tanpa henti, telinganya berdenging dan bunyi nya bahkan mencapai frekuensi sekitar 9300-9600 kHz, suara yang cukup keras dan mengganggu otak dan pendengarannya.
Sidney Mohede. (foto: liputan6.com)
Kondisi ini jelas membuat Sidney merasakan penderitaan setiap hari. Serangan vertigo yang cukup sering membuatnya harus memejamkan mata dengan keadaan kepala yang terasa berputar hebat, bahkan membuat dirinya sampai muntah.
“Gangguan pendengaran, suara berdenging (tinnitus) yang tidak pernah berhenti, dan juga serangan vertigo yang cukup sering, dan membuat saya harus memejamkan mata saya berjam-jam dengan kepala berputar, dan bahkan sampai muntah-muntah,” ucap Sidney.
Pengobatan yang dijalani juga tidak berjalan mudah dan terasa menyakitkan. Salah satu yang ia jalani adalah pengobatan intensif di Singapura, di mana ia harus menerima suntikan steroid yang langsung menembus gendang telinga kirinya selama beberapa hari berturut-turut. Proses suntikan ini jelas sangat menyakitkan, tidak nyaman, bahkan memicu serangan vertigo instan setiap kali obat disuntikkan.
Memilih Tidak Menyerah dan Punya Mental yang Tangguh
