8 Destinasi Wisata Dunia yang Sebaiknya Dihindari 2026
Overtourism dan kerusakan lingkungan bikin 8 destinasi dunia ini disarankan dihindari 2026.
KamiBijak.com, Travel - Destinasi wisata terkenal memang selalu punya daya tarik besar bagi pelancong lokal maupun mancanegara. Tak jarang, wisatawan rela datang berulang kali demi merasakan pengalaman liburan di tempat yang sama. Namun, popularitas tinggi sering kali datang bersama konsekuensi: keramaian ekstrem, tekanan lingkungan, hingga menurunnya kualitas hidup masyarakat lokal.
Mengunjungi destinasi favorit dunia berarti kamu juga harus siap menghadapi kepadatan wisatawan. Bahkan, beberapa lokasi kini dinilai mengalami penurunan keindahan akibat kerusakan alam dan dampak pariwisata berlebihan. Jika kondisi ini dibiarkan, liburan yang diharapkan menyenangkan justru bisa berubah menjadi pengalaman mengecewakan.
Fodor’s Travel, penerbit perjalanan asal Amerika Serikat, merilis daftar tahunan “Fodor’s No List 2026”. Daftar ini memuat sejumlah destinasi populer yang disarankan untuk dihindari dalam setahun ke depan. Alasannya beragam, mulai dari overtourism hingga ancaman serius terhadap kelestarian lingkungan. Berikut daftarnya.
- Antartika
Benua es ini dinilai tidak lagi membutuhkan kunjungan wisata. Pada periode 2023–2024, sekitar 120 ribu wisatawan datang ke Antartika dan jumlah tersebut diprediksi melonjak tajam di tahun-tahun mendatang. Lonjakan ini berisiko besar bagi ekosistemnya yang rapuh.
- Kepulauan Canary, Spanyol
Pada paruh pertama 2025, wilayah ini menerima 7,8 juta wisatawan. Ledakan kunjungan memicu protes warga karena mahalnya biaya hidup dan tekanan terhadap lingkungan.
(Foto : Dok. Goway)
- Taman Nasional Glacier, Amerika Serikat
Pemanasan global membuat jumlah gletser menyusut drastis. Dari sekitar 150 gletser di awal abad ke-20, kini hanya tersisa 27 dan diperkirakan habis pada 2030. Ironisnya, wisatawan justru datang berbondong-bondong untuk “melihat sebelum hilang”.
- Isola Sacra, Italia
Komunitas pesisir kecil ini terancam oleh rencana masuknya kapal pesiar raksasa. Warga khawatir invasi wisatawan massal akan merusak ekosistem lokal.
- Wilayah Jungfrau, Swiss
Lonjakan pariwisata membawa keuntungan besar, namun menimbulkan dilema antara pelestarian alam dan kualitas hidup penduduk setempat.
- Meksiko
Overtourism memicu kenaikan harga sewa, penggusuran warga lokal, hingga terkikisnya identitas budaya, terutama akibat penyewaan jangka pendek.
- Mombasa, Kenya
Meski mencatat 2,4 juta wisatawan internasional, kota ini menghadapi masalah serius seperti keterbatasan sumber daya, infrastruktur, dan pengelolaan limbah.
(Foto : Dok. African Mecca Safaris)
- Montmartre, Paris
Wilayah yang hanya dihuni sekitar 30 ribu penduduk ini harus menerima 11 juta wisatawan setiap tahun, memicu protes terkait mahalnya perumahan dan ancaman hilangnya budaya lokal.
Daftar ini menjadi pengingat bahwa berwisata juga perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang, bukan sekadar popularitas destinasi. (Restu)
Sumber : CNN Indonesia
Video Terbaru
MOST VIEWED
